Minggu, 14 Mei 2017

Jejak Langkah: NASIONALISME, ISLAMISME, DAN MARXISME



Sudah sekian tahun lamanya Indonesia berada diseberang jembatan emas, suatau jembatan yang menghantarkan bangsa ini merdeka. Sudah sekian tahun lamanya dataran kegelapan kita tinggalkan dengan tergopoh-gopoh, merangkak demi penghidupan layak tanpa penjajahan. Ribuan pribumi dengan semangat membangun jembatan emas. Gotong royong: tidak mengenal agama, tidak mengenal suku, tidak mengenal ras, tidak pula mengenal bahasa. Satu cita mereka yaitu menghantarkan indonesia menuju kemerdekaan.
Menjegal, menumpas, menginjak, mengubur para kolonialis yang hendak menghancurkan jembatan mulia ini. Akal bergulat dengan iman, otot bergulat dengan bebanhanya demi satu tujuan yaitu indonesia merdeka! Dengan tekad yang bulat, dengan cita-cita yang sama, dengan ikrar yang satu yaitu bangsa Indonesia, akhirnya menghantarkan pada gerbang jembatan kemerdekaan.
Ratusan tahun lamanya nusantara terjerat politik kolonialisme. Penguasaan ekonomi secara berkelanjutan, sistem produksi mereka kendalikan, sistem lumbung dan tanah adat mereka hancurkan sehingga tak sedikit kemiskinan dan kelaparan terjadi dimana-mana. Siapa yang merasakan semua itu? Tidak lain merupakan bangsa pribumi!. Cultuurstelsel semakin mencekik rongga hidup pribumi secara perlahan. Kerja tanpa dibayar, penyewaan tanah dengan paksa, pungutan pajak yang selangit terus menyelimuti wilayah Hindia Besar.
Kondisi itu terus berlarut begitu lama. Kebodohan bercampur takut tak kuasa membuat mereka terus tunduk pada sang tuan. Tak sedikit pula dari pribumi yang menjadi penjilat sesamanya hanya karena fulus. Mereka terkena virus materialisme yang mempertuhankan fulus, jabatan, dan kehormatan. Tak iba rasanya walaupun keturunan yang berasal dari darah daging mereka menjadi korbanya. Yang penting ndoro senang dan aku punya jabatan.
Apakah kalian tahu material apa saja yang kuat menopang jutaan manusia menuju dataran yang merdeka? Menyebrangi sungai penderitaan yang tak terlihat dimana ujung daratanya. Tiga material inilah yang soekarno jual kepada dunia, yaitu NASAKOM!. Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme. Sejauh apapun ujung daratan kemerdekaan akan terlihat ketika kita punya cita-cita, punya kehendak dan ingin bersatu!. Karena sesunggunya imperialisme takan mampu melawan suatu bangsa yang bulat cita-citanya, bulat kehendaknya dan berpegang teguh dalam persatuan.
Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 merupakan sebuah klimaks para pribumi untuk bersatu; menyatukan tekad dalam diri untuk menghilangkan perbedaan demi melawan penjajahan. Berbagai golongan menjadi lebur; Jong Java, Jong Ambon; Jong Selebes; Jong Minahasa; para pemuda yang berjiwa nasionalis; para pemuda yang berjiwa agamis dan para pemuda yang berjiwa sosialis. Mereka bersatu padu dalam perbedaan demi tujuan yang sama yaitu menghilangkan penjajahan di Bumi Pertiwi.
Nasionalisme yang diusung oleh Soekarno bukanlah nasionalisme barat. Nasionalisme-Eropah, jalah suatu nasionalisme jang bersifat serang-menjerang, suatu nasionalisme jang mengedjar keperluan sendiri, suatu nasionalisme perdagangan jang untung atau rugi,­­-nasionalisme jang sematjam itu achirnja pastilahalah, pastilah binasa (Soekarno-Dibawah Bendera Revolusi: 6), bukan pula nasionalisme yang mengagung agungkan bangsa sendiri seperti halnya Hitler di Jerman. Nasionalisme kita merupakan suatu nasionalisme yang bercorak ketimuran yang mengenal adab kemanusiaan.
Pergerakan Nasionalisme terdapat banyak kesamaan dengan pergerakan Islamisme dan Marxisme. Ketiga pergerakan tersebut sama-sama melawan kapitalisme yang busuk dan menindas. Penjajahan dan penguasaan terhadap sumber daya di Indonesia oleh negara-negara eropa membuat Islam bangkit! Karena sesungguhnya perilaku negara-negara eropa sudah bertentangan dengan keyakinan pemeluk agama Islam. Memakan hasil jerih payah orang lain tentulah tidak dibenarkan dalam Islam. Paksa memaksa dalam perniagaan tentulah bukan etika ekonomi Islam. Membunuh manusia tanpa sebab tentulah suatu kebiadaban yang bertentanagn dengan hukum Islam. Maka sudah sewajarnya para umat Islam yang hidup di zamanya melakukan perlawanan dengan sengit.
Lihatlah bagaimana Syekh Mohammad Adboeh dan Syekh Djamaludin El Afghani yang membangkitkan spirit melawan imperialisme di Asia. Sebagai panglima Pan Islamisme mereka membuka penerang jalan untuk kejayaan kembali dunia Islam yang terpuruk akibat pendeknya akal kehidupan. Tertutup dengan dunia barat menjadikan imbas buruk bagi kebidupan Islam dalam suatu wilayah. Tertutup dengan dunia politik pun sama halnya, karena walau bagaimanapun kehidupan Rasulullah penuh dengan perpolitikan. Membuat siasat untuk menjaga agama Allah dari orang-orang munafik merupakan suatu kemuliaan dari pada beribadah hanya untuk dirinya semata.
Kebangkitan Islam menjadi sianida tersendiri bagi negara-negara penjajah. Gelombang pergerakan terus membesar ketika Syekh Djamaludin tak hentinya mengkhotbahkan kepada seluruh rakyatnya untuk berjuang melawan bahayanya kapitalisme barat. Perjuangan Islam melalui Pan-Islamisme tidak terbatas dalam sebuah teritori, melainkan seluruh Asia dan bahkan dunia. Gelombang pergerakan terus membara dari arab hingga ke ujung Afrika: Maroko. Dan menjalar pula ke negara Asia Tengah: India. Kemudian bersandar pula pada negara Hindia-Besar yakni Indonesia.
Perlawanan-perlawanan terhadap kapitalisme dilakukan pula oleh para penganut paham Marxisme. Dengan semangat juang yang membara mereka terus perjuangkan pertentangan kelas yang membagi masyarakat dalam dua kelas, yakni borjuis yang menindas dan ploletas yang tertindas. Keadilan sudah tak ada dalam kapitalisme. Penghisapan terhadap buruh membuat bangkit para ploletariat menuntut keadilan dan melawan penjajahan. Begitu banyaknya kaum-kaum ploletar di Indonesia pada masa penjajahan membuat subur paham Marxisme. Perjuangan Marxisme ini nampaknya sama pula dengan perjuangan Islamisme dan Nasionalisme.
Namun sangat disayangkan ternyata kaum Marxisme memiliki dasar pemikiran yang bertentangan dengan Islamisme dan Nasionalisme. Kebencian begitu hebat terhadap kaum-kaum beragama. Mereka mendakwa bahwa kaum agamawanlah yang melindungi para kapitalis. Dengan dalih agama, perlindungan terhadap kaum borjuis dalam menjalankan bisnisnya berjalan dengan mulus. Dengan dalih agama, seorang raja menjadi sewenang-wenang terhadap rakyatnya untuk memungut pajak hasil jerih keringatnya sendiri. Begitupun sebaliknya, para agamawan; pendeta eropa balik menyerang bahwa Marxisme hanya mengenal kebendaan (materialism) yang membuat rakyat jauh akan Tuhanya. Sehingga dalam perselisihanya itu keluarlah sebuah pernyataan dalam Manifesto Komunis bahwa Agama adalah candu dan harus dilenyapkan!
Bukan saja kaum agamawan yang diserang oleh Marxisme, namun para pejuang bangsa yang berpaham Nasionalisme pun sama saja. Mereka menegaskan bahwa politik kebangsaan harus dihapuskan, politik cinta tanah air harus dihilangkan. Karena perjuangan Marxisme tidak terbatas oleh wilayah, melainkan perjuangan yang mencakup seluruh dunia (internasionalism). Dengan jelas Marx dan Angel menyatakan bahwa kaum buruh tidak mempunyai tanah air!. Dengan demikian maka lahirlah istilah ubi bene, ibi patria: dimana aturan kerja bagus disitulah tanah air saya. Tidak ada batas teritori yang mengikat sama sekali terhadap kaum Marxisme. Semua itu dilakukan semata hanya dunia; mencari kenyamanan hidup, mengharapkan keadilan tanpa mengetahui keadilan.
Perlu diingat kawan, tulisan diatas terjadi bukan berada di Asia tentu pula bukan di Indonesia, melainkan di Eropa! Di negara serang menyerang, di negara ekonomi yang untung rugi. Perselisihan antara kaum Agamawan dengan Marxisme terjadi di Eropa, itu pun bukan berselisih dengan Islam yang rahmatan lillalamin. Sungguh tidak tepat apabila penggunaan paham demikian diterapkan di Indonesia. Cara-cara seperti itu merupakan cara-cara kuno yang tidak bisa diterapkan disegala zaman. Marx dan Angel bukanlah seorang nabi yang mampu membuat konsep seperti Islam. Pemikiran marx dan Angel tidak bisa diterapkan disemua wilayah, terutama wilayah timur seperti Indonesia.
Perselisihan-perselisihan yang terjadi antara Nasionalisme dengan Islamisme dan Marxisme haruslah diakhiri, perselisihan antara Islamisme dengan Nasionalisme dan Marxisme harus disudahi, perselisihan antara Marxisme dengan Nasionalisme dan Islamisme haruslah dikubur dalam-dalam. Perselisihan itu semua harus dihilangkan apabila Indonesia ingin merdeka. Perselisihan itu tidaklah pantas ada di negara jajahan, di negara yang belum merdeka. Yang dicari bukanlah kekuasaan, melainkan kemerdekaan.
Maka sudah sewajarnya apabila Soekarno terus meneriakan PERSATUAN! PERSATUAN! dan PERSATUAN!. Sebab kita yakin, bahwa persatuanlah yang kelak kemudian hari membawa kita ke arah terkabulnya impian kita: Indonesia Merdeka!. (Dibawah Bendera Revolusi). Tidak boleh ada perpecahan, tidak boleh ada permusuhan diantara tiga paham pergerakan ini. Karena sejatinya tiga material jembatan emas ini sama-sama melawan kapitalisme dan imperialisme barat yang menindas dan memporak porandakan Hindia-Besar ratusan tahun lamanya. Sumber daya habis dikeruk, ribuan nyawa lenyap. Semua itu hanya untuk kepentingan perutnya saja.
Semua yang ditulis diatas terjadi sebelum Indonesisa berada di seberang jembatan emas. Semua terjadi ketika proses pembuatan jembatan menuju kemerdekaan. Adapun permasalahan mengenai pergaulan hidup bisa diselesaikan setelah Indonesia merdeka. Janganlah befikir ngejelimat kata Soekarno dalam sidang penetapan dasar Indonesia merdeka. Harus ada ini, harus ada itu terlebih dahulu lalu kemudian merdeka. Apabila pemikiran menjelimet itu menyelimuti Negeri Arab maka tak mungkin Arab bisa merdeka, padahal 80% mayarakatnya adalah masyarakat Baduy. Tak mungkin pula Rusia bisa merdeka apabila berfikir ngejelimet, karena hampir 80% masyarakatnya tidak bisa baca dan tulis.
Nyatanya hari ini kita sudah melewati masa-masa gelap, masa penderitaan rakyat atas penindasan bangsa lain. Matahari kian semangatnya menyambut negara baru yang lahir. Negara bagian Arab turut bersenang hati melihat negara saudaranya bisa merdeka. Kita saat ini sudah melewati sungai kematian, sungai imperialisme dan kolonialisme. Di seberang jembatan emas ini sudah kita dirikan sebuah rumah dengan pondasi Pancasila. Dengan pondasi inilah maka lantai NKRI bisa tercipta sebagai pijakan mulus bangsa Indonesia. Tepat pada 18 Agustus 1945 dengan resmi lantai NKRI ditetapkan, yaitu UUD 1945. Secara resmi negara Indonesia haruslah melindungi bangsanya dari segala permasalahan hidup.
Yang lalu sudahlah berlalu. Masa kini jauh berbeda dengan masa kolonial. Tiga paham pergerakan itu tepatlah melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan kolonial, melakukan perlawanan atas dasar kemerdekaan untuk hidup. Yang mereka lawaan saat itu ialah bangsa penjajah yang kehabisan bakul nasi. Sehingga perlulah kita mengambil kembali hak-hak atas dasar bangsa dan tanah air. Kini bakul nasi harus sepenuhnya dikelola oleh negara. Lantas masihkah perlu tiga paham pergerakan itu untuk mempertahankan dan mengelola NKRI? Apakah konsep NASAKOM yang sudah Soekarno jual harus dihidupkan kembali paska reformasi? Apakah bisa masing-masing paham beriringan mengisi kemerdekaan?  Tentu tidak kawan! Kita sudah punya Pancasila sebagai dasar Indonesia merdeka. NKRI tidak butuh ideologi yang sudah lenyap dimakan zaman. Cukup dengan Pancasila dan UUD 1945 asli maka cita-cita bangsa ini bisa tercapai.
MERDEKA!!!
Muda, Berfikir, Bergerak!!!

Penulis  : Dzikri Amrullah

1 komentar: