Cendekiawan Muda Pergerakan Organisasi dari berbagai universitas di Indonesia yang berbasis keilmuan untuk mencerdaskan kehidupan Bangsa!

Rabu, 17 Mei 2017

Indonesia dalam Cengkraman




Soal jajahan adalah soal rugi atau untung; soal ini bukanlah soal kesopanan atau soal kewajiban; soal ini adalah soal mencari hidup, soal business (bisnis), (Soekarno). Soal jajahan bukanlah soal yang akan habis dimakan zaman, soal jajahan adalah soal nyawa; soal cara pemenuhan kebutuhan hidup agar bisa bernafas.

Soal jajahan takan pernah mati, umurnya abadi sampai akhir zaman. Soal jajahan adalah soal kreatifitas manusia, caranya takan pernah beku; caranya begitu cair menyesuaikan ruang. Penjajahan takan bisa berhenti; umurnya begitu panjang, berjalan terus seperti detik jam. Dari zaman pergulatan suku yang nomaden, zaman pertengahan hingga zaman modern pun penjajahan masih berjalan.

Penjajahan pada masa kolonial adalah penjajahan yang nyata terlihat oleh indra. Pergulatanya begitu jelas di muka, jutaan nyawa menjadi saksi bisu betapa kejamnya nafsu dunia. Ketika Eropa mulai ekspansi ke belahan dunia timur; Asia dan Afrika,  langit dan bumi menyaksikan betapa buasnya  manusia mencari makan. Lautan mereka arungi, sungai mereka lewati, bukit mereka daki, semua itu hanya untuk kekuasaan; kekuasaan mengatur yang lemah; kekuasaan untuk mengatur wilayah yang kaya akan sumber daya.

Maka jangan heran apabila segala upaya yang akan merintangi kepentingan ngara-negara penjajah akan menjadi sasaran untuk dimusnahkan.  Pergerakan kaum pribumi dalam melawan penjajahan tak luput dari sorotan negara penjajah; negara yang kehabisan sumber daya di wilayah asalnya. Tidak mengenal paham masing-masing pergerakan; sekalipun itu komunisme yang menggerakan; sekalipun nasionalisme yang  membangkitkan; sekakipun Islamisme yang menguatkan, maka jadilah pergerakan itu menjadi bidikan khusus untuk dihancurkan.

Inggris merasa ketakutan ketika Mesir dan India melakukan perlawanan untuk merdeka; maka tak heran apabila amerika dan prancis merasa cemas apabila Indo-China ingin bebas; maka tak heran apabila Belanda kalangkabut melihat Indonesia bersatu, mendorong untuk merdeka. Karena jika hal di atas benar-benar terjadi, maka rezeki negara penjajah akan terancam, negeri tuan-tuan akan balik dengan tangan hampa. Maka tuan-tuan penjajah tidak menganal ajaran maupun isme. Jerit kegemparanpun terjadi. Apapun itu bentuknya apabila merintangi kepentingan penjajah maka jadilah musuh mereka yang abadi.

Indonesia sudah merdeka, masihkah ada penjajahan?

Penjajahan saat ini bukanlah penjajahan seperti zaman cultuurstelsel, penjajahan saat ini bukanlah penjajahan seperti inggris menaklukan australia; memusnahkan suku aborigin dengan kekerasan fisik. Penjajahan sekarang merupakan penjajahan yang begitu halus, begitu lembut, tak kasat mata, namun dampaknya mampu memusnahkan suatu bangsa. Penjajahan pola fikir contohnya, mampu memusnahkan semua yang ada di negara terjajah, penerapan sistem yang diinginkan sukses melancarkan kepentingan ekonomi penjajah.

Negara-negara maju terus menindas negara berkembang yang kaya akan sumber daya alam. Mereka meracuni negara jajahan dengan sistem; meracuni  negara jajahan dengan aturan; meracuni negara jajahan dengan modal; meracuni negara jajahan dengan hutang. Dengan demikian sulitlah suatu negara berkembang seperti Indonesia mampu menyaingi negara maju yang menguasai segala faktor produksi.

Jerit kegembaran terjadi apabila Indonesia berdikari; orang-orang asing itu akan berkoar-koar kemudian menghalalkan segala cara agar Indonesia menjadi negara terbelakang. Kehawatiran yang begitu hebat bagi asing apabila korupsi sudah hilang. Para penjajah negeri ini cemas; panas dingin apabila bangsa ini bersatu dibawah komando ulama. Lebih-lebih apabila Pancasila berjalan dengan murni dan konsekuen.

Para penjajah akan semangat untuk mengadu domba bangsa ini, memecah belah dengan isu SARA. Para Ulama dibenturkan, aparatur negara dipecah, hukum dilemahkan, dan media masa dikuasai untuk membuat opini publik. 

Sudah sewajarnya sebagai seorang pribumi; orang Indonesia asli ingin mempertahankan tanah kelahiranya dari segala interpensi yang akan menjatuhkan Indonesia dipelukan asing. Jangan tertipu dengan segala isu yang dibangun untuk memecah belah bangsa. Hati-hati ketika asing mulai interpensi terhadap internal negara kita, itu menandakan bahwa sudah adanya ikatan untung-rugi. Apalagi menyusup mengaku-ngaku mengerti tentang pancasila, mengerti tentang kebhinekaan yang akan merusak sistem ketatanegaraan; mengamandemen UUD untuk membuka keran kepentingan asing.

 "Ingatlah… ingatlah… ingat pesanku lagi: Jika engkau mencari pemimpin, carilah yang dibenci, ditakuti atau dicacimaki asing, karena itu yang benar. Pemimpin tersebut akan membelamu di atas kepentingan asing itu. Dan janganlah kamu memilih pemimpin yang dipuji-puji asing, karena ia akan memperdayaimu (Soekarno)." 



Penulis   : Dzikri Amrullah

Minggu, 14 Mei 2017

Jejak Langkah: NASIONALISME, ISLAMISME, DAN MARXISME



Sudah sekian tahun lamanya Indonesia berada diseberang jembatan emas, suatau jembatan yang menghantarkan bangsa ini merdeka. Sudah sekian tahun lamanya dataran kegelapan kita tinggalkan dengan tergopoh-gopoh, merangkak demi penghidupan layak tanpa penjajahan. Ribuan pribumi dengan semangat membangun jembatan emas. Gotong royong: tidak mengenal agama, tidak mengenal suku, tidak mengenal ras, tidak pula mengenal bahasa. Satu cita mereka yaitu menghantarkan indonesia menuju kemerdekaan.
Menjegal, menumpas, menginjak, mengubur para kolonialis yang hendak menghancurkan jembatan mulia ini. Akal bergulat dengan iman, otot bergulat dengan bebanhanya demi satu tujuan yaitu indonesia merdeka! Dengan tekad yang bulat, dengan cita-cita yang sama, dengan ikrar yang satu yaitu bangsa Indonesia, akhirnya menghantarkan pada gerbang jembatan kemerdekaan.
Ratusan tahun lamanya nusantara terjerat politik kolonialisme. Penguasaan ekonomi secara berkelanjutan, sistem produksi mereka kendalikan, sistem lumbung dan tanah adat mereka hancurkan sehingga tak sedikit kemiskinan dan kelaparan terjadi dimana-mana. Siapa yang merasakan semua itu? Tidak lain merupakan bangsa pribumi!. Cultuurstelsel semakin mencekik rongga hidup pribumi secara perlahan. Kerja tanpa dibayar, penyewaan tanah dengan paksa, pungutan pajak yang selangit terus menyelimuti wilayah Hindia Besar.
Kondisi itu terus berlarut begitu lama. Kebodohan bercampur takut tak kuasa membuat mereka terus tunduk pada sang tuan. Tak sedikit pula dari pribumi yang menjadi penjilat sesamanya hanya karena fulus. Mereka terkena virus materialisme yang mempertuhankan fulus, jabatan, dan kehormatan. Tak iba rasanya walaupun keturunan yang berasal dari darah daging mereka menjadi korbanya. Yang penting ndoro senang dan aku punya jabatan.
Apakah kalian tahu material apa saja yang kuat menopang jutaan manusia menuju dataran yang merdeka? Menyebrangi sungai penderitaan yang tak terlihat dimana ujung daratanya. Tiga material inilah yang soekarno jual kepada dunia, yaitu NASAKOM!. Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme. Sejauh apapun ujung daratan kemerdekaan akan terlihat ketika kita punya cita-cita, punya kehendak dan ingin bersatu!. Karena sesunggunya imperialisme takan mampu melawan suatu bangsa yang bulat cita-citanya, bulat kehendaknya dan berpegang teguh dalam persatuan.
Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 merupakan sebuah klimaks para pribumi untuk bersatu; menyatukan tekad dalam diri untuk menghilangkan perbedaan demi melawan penjajahan. Berbagai golongan menjadi lebur; Jong Java, Jong Ambon; Jong Selebes; Jong Minahasa; para pemuda yang berjiwa nasionalis; para pemuda yang berjiwa agamis dan para pemuda yang berjiwa sosialis. Mereka bersatu padu dalam perbedaan demi tujuan yang sama yaitu menghilangkan penjajahan di Bumi Pertiwi.
Nasionalisme yang diusung oleh Soekarno bukanlah nasionalisme barat. Nasionalisme-Eropah, jalah suatu nasionalisme jang bersifat serang-menjerang, suatu nasionalisme jang mengedjar keperluan sendiri, suatu nasionalisme perdagangan jang untung atau rugi,­­-nasionalisme jang sematjam itu achirnja pastilahalah, pastilah binasa (Soekarno-Dibawah Bendera Revolusi: 6), bukan pula nasionalisme yang mengagung agungkan bangsa sendiri seperti halnya Hitler di Jerman. Nasionalisme kita merupakan suatu nasionalisme yang bercorak ketimuran yang mengenal adab kemanusiaan.
Pergerakan Nasionalisme terdapat banyak kesamaan dengan pergerakan Islamisme dan Marxisme. Ketiga pergerakan tersebut sama-sama melawan kapitalisme yang busuk dan menindas. Penjajahan dan penguasaan terhadap sumber daya di Indonesia oleh negara-negara eropa membuat Islam bangkit! Karena sesungguhnya perilaku negara-negara eropa sudah bertentangan dengan keyakinan pemeluk agama Islam. Memakan hasil jerih payah orang lain tentulah tidak dibenarkan dalam Islam. Paksa memaksa dalam perniagaan tentulah bukan etika ekonomi Islam. Membunuh manusia tanpa sebab tentulah suatu kebiadaban yang bertentanagn dengan hukum Islam. Maka sudah sewajarnya para umat Islam yang hidup di zamanya melakukan perlawanan dengan sengit.
Lihatlah bagaimana Syekh Mohammad Adboeh dan Syekh Djamaludin El Afghani yang membangkitkan spirit melawan imperialisme di Asia. Sebagai panglima Pan Islamisme mereka membuka penerang jalan untuk kejayaan kembali dunia Islam yang terpuruk akibat pendeknya akal kehidupan. Tertutup dengan dunia barat menjadikan imbas buruk bagi kebidupan Islam dalam suatu wilayah. Tertutup dengan dunia politik pun sama halnya, karena walau bagaimanapun kehidupan Rasulullah penuh dengan perpolitikan. Membuat siasat untuk menjaga agama Allah dari orang-orang munafik merupakan suatu kemuliaan dari pada beribadah hanya untuk dirinya semata.
Kebangkitan Islam menjadi sianida tersendiri bagi negara-negara penjajah. Gelombang pergerakan terus membesar ketika Syekh Djamaludin tak hentinya mengkhotbahkan kepada seluruh rakyatnya untuk berjuang melawan bahayanya kapitalisme barat. Perjuangan Islam melalui Pan-Islamisme tidak terbatas dalam sebuah teritori, melainkan seluruh Asia dan bahkan dunia. Gelombang pergerakan terus membara dari arab hingga ke ujung Afrika: Maroko. Dan menjalar pula ke negara Asia Tengah: India. Kemudian bersandar pula pada negara Hindia-Besar yakni Indonesia.
Perlawanan-perlawanan terhadap kapitalisme dilakukan pula oleh para penganut paham Marxisme. Dengan semangat juang yang membara mereka terus perjuangkan pertentangan kelas yang membagi masyarakat dalam dua kelas, yakni borjuis yang menindas dan ploletas yang tertindas. Keadilan sudah tak ada dalam kapitalisme. Penghisapan terhadap buruh membuat bangkit para ploletariat menuntut keadilan dan melawan penjajahan. Begitu banyaknya kaum-kaum ploletar di Indonesia pada masa penjajahan membuat subur paham Marxisme. Perjuangan Marxisme ini nampaknya sama pula dengan perjuangan Islamisme dan Nasionalisme.
Namun sangat disayangkan ternyata kaum Marxisme memiliki dasar pemikiran yang bertentangan dengan Islamisme dan Nasionalisme. Kebencian begitu hebat terhadap kaum-kaum beragama. Mereka mendakwa bahwa kaum agamawanlah yang melindungi para kapitalis. Dengan dalih agama, perlindungan terhadap kaum borjuis dalam menjalankan bisnisnya berjalan dengan mulus. Dengan dalih agama, seorang raja menjadi sewenang-wenang terhadap rakyatnya untuk memungut pajak hasil jerih keringatnya sendiri. Begitupun sebaliknya, para agamawan; pendeta eropa balik menyerang bahwa Marxisme hanya mengenal kebendaan (materialism) yang membuat rakyat jauh akan Tuhanya. Sehingga dalam perselisihanya itu keluarlah sebuah pernyataan dalam Manifesto Komunis bahwa Agama adalah candu dan harus dilenyapkan!
Bukan saja kaum agamawan yang diserang oleh Marxisme, namun para pejuang bangsa yang berpaham Nasionalisme pun sama saja. Mereka menegaskan bahwa politik kebangsaan harus dihapuskan, politik cinta tanah air harus dihilangkan. Karena perjuangan Marxisme tidak terbatas oleh wilayah, melainkan perjuangan yang mencakup seluruh dunia (internasionalism). Dengan jelas Marx dan Angel menyatakan bahwa kaum buruh tidak mempunyai tanah air!. Dengan demikian maka lahirlah istilah ubi bene, ibi patria: dimana aturan kerja bagus disitulah tanah air saya. Tidak ada batas teritori yang mengikat sama sekali terhadap kaum Marxisme. Semua itu dilakukan semata hanya dunia; mencari kenyamanan hidup, mengharapkan keadilan tanpa mengetahui keadilan.
Perlu diingat kawan, tulisan diatas terjadi bukan berada di Asia tentu pula bukan di Indonesia, melainkan di Eropa! Di negara serang menyerang, di negara ekonomi yang untung rugi. Perselisihan antara kaum Agamawan dengan Marxisme terjadi di Eropa, itu pun bukan berselisih dengan Islam yang rahmatan lillalamin. Sungguh tidak tepat apabila penggunaan paham demikian diterapkan di Indonesia. Cara-cara seperti itu merupakan cara-cara kuno yang tidak bisa diterapkan disegala zaman. Marx dan Angel bukanlah seorang nabi yang mampu membuat konsep seperti Islam. Pemikiran marx dan Angel tidak bisa diterapkan disemua wilayah, terutama wilayah timur seperti Indonesia.
Perselisihan-perselisihan yang terjadi antara Nasionalisme dengan Islamisme dan Marxisme haruslah diakhiri, perselisihan antara Islamisme dengan Nasionalisme dan Marxisme harus disudahi, perselisihan antara Marxisme dengan Nasionalisme dan Islamisme haruslah dikubur dalam-dalam. Perselisihan itu semua harus dihilangkan apabila Indonesia ingin merdeka. Perselisihan itu tidaklah pantas ada di negara jajahan, di negara yang belum merdeka. Yang dicari bukanlah kekuasaan, melainkan kemerdekaan.
Maka sudah sewajarnya apabila Soekarno terus meneriakan PERSATUAN! PERSATUAN! dan PERSATUAN!. Sebab kita yakin, bahwa persatuanlah yang kelak kemudian hari membawa kita ke arah terkabulnya impian kita: Indonesia Merdeka!. (Dibawah Bendera Revolusi). Tidak boleh ada perpecahan, tidak boleh ada permusuhan diantara tiga paham pergerakan ini. Karena sejatinya tiga material jembatan emas ini sama-sama melawan kapitalisme dan imperialisme barat yang menindas dan memporak porandakan Hindia-Besar ratusan tahun lamanya. Sumber daya habis dikeruk, ribuan nyawa lenyap. Semua itu hanya untuk kepentingan perutnya saja.
Semua yang ditulis diatas terjadi sebelum Indonesisa berada di seberang jembatan emas. Semua terjadi ketika proses pembuatan jembatan menuju kemerdekaan. Adapun permasalahan mengenai pergaulan hidup bisa diselesaikan setelah Indonesia merdeka. Janganlah befikir ngejelimat kata Soekarno dalam sidang penetapan dasar Indonesia merdeka. Harus ada ini, harus ada itu terlebih dahulu lalu kemudian merdeka. Apabila pemikiran menjelimet itu menyelimuti Negeri Arab maka tak mungkin Arab bisa merdeka, padahal 80% mayarakatnya adalah masyarakat Baduy. Tak mungkin pula Rusia bisa merdeka apabila berfikir ngejelimet, karena hampir 80% masyarakatnya tidak bisa baca dan tulis.
Nyatanya hari ini kita sudah melewati masa-masa gelap, masa penderitaan rakyat atas penindasan bangsa lain. Matahari kian semangatnya menyambut negara baru yang lahir. Negara bagian Arab turut bersenang hati melihat negara saudaranya bisa merdeka. Kita saat ini sudah melewati sungai kematian, sungai imperialisme dan kolonialisme. Di seberang jembatan emas ini sudah kita dirikan sebuah rumah dengan pondasi Pancasila. Dengan pondasi inilah maka lantai NKRI bisa tercipta sebagai pijakan mulus bangsa Indonesia. Tepat pada 18 Agustus 1945 dengan resmi lantai NKRI ditetapkan, yaitu UUD 1945. Secara resmi negara Indonesia haruslah melindungi bangsanya dari segala permasalahan hidup.
Yang lalu sudahlah berlalu. Masa kini jauh berbeda dengan masa kolonial. Tiga paham pergerakan itu tepatlah melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan kolonial, melakukan perlawanan atas dasar kemerdekaan untuk hidup. Yang mereka lawaan saat itu ialah bangsa penjajah yang kehabisan bakul nasi. Sehingga perlulah kita mengambil kembali hak-hak atas dasar bangsa dan tanah air. Kini bakul nasi harus sepenuhnya dikelola oleh negara. Lantas masihkah perlu tiga paham pergerakan itu untuk mempertahankan dan mengelola NKRI? Apakah konsep NASAKOM yang sudah Soekarno jual harus dihidupkan kembali paska reformasi? Apakah bisa masing-masing paham beriringan mengisi kemerdekaan?  Tentu tidak kawan! Kita sudah punya Pancasila sebagai dasar Indonesia merdeka. NKRI tidak butuh ideologi yang sudah lenyap dimakan zaman. Cukup dengan Pancasila dan UUD 1945 asli maka cita-cita bangsa ini bisa tercapai.
MERDEKA!!!
Muda, Berfikir, Bergerak!!!

Penulis  : Dzikri Amrullah

Belajar Bijak dari Andalusia


Tidak bisa dipungkiri, generasa muda bangsa saat ini belum sepenuhnya tersadarkan dengan kondisi negara yang semakin jauh dari jati dirinya. Masih banyak pemuda yang hanya memikirkan diri sendiri; asik dengan kehidupan pragmatis; lekat dengan hedonis: fun, food, fashion.

Generasi saat ini begitu dimanjakan oleh kemajuan zaman, keseharianya hanya disibukan dengan bermain social media. Waktunya tersita berjam-jam hanya untuk mencari trend fashion terkini di instagram, membaca status di facebook lebih digemari remaja saat ini dibanding membaca buku pelajaran, lebih senang mengamati riwayat mantan disbanding riwayat bangsanya sendiri.

Tidakkah terbesit dipikiran mereka apa tugas dari seorang pemuda?

Pemuda seharusnya mampu menjadi pelopor dalam menciptakan sebuah peeradaban yang luhur. Emosi yang masih berkobar-kobar menjadi suluh untuk membakar semangat juang dalam mewujudkan cita-cita founding father bangsa yang belum tercapai. Langkah awal dalam mewujudkan cita besar tersebut bisa dimulai dari hal-hal terkecil, belajar misalnya.

Dengan mempelajari berbagai disiplin ilmu, seorang pemuda akan mampu mengenali jati dirinya sendiri, mengetahui hakikat seorang pemuda. Salah satu disiplin ilmu yang penting dipelajari adalah sejarah. Mempelajari fenomena terdahulu sebagai rujukan untuk menjalankan kehidupan saat ini.

Mari kita lihat fenomena terdahulu, SEJARAH HANCURNYA ANDALUSIA.

Saat ini, kita mengenal bahwa kota-kota indah seperti Barcelona, Madrid, Valencia, Sevilla, Granada, Malaga, Cordova, tersohor sebagai basis klub-klub sepak bola ternama, serta menjadi tujuan wisata favorit di dunia.

Namun, ketahuilah bahwa pada masa lalu kota-kota tersebut dihuni oleh kaum muslimin dan berada di bawah pemerintahan Islam.

Kita sudah mengetahui bahwa kisah dari pemimpin muslim terakhir di Andalusia (Spanyol) adalah Abdillah Muhammad bin Al Ahmar. Ia keluar dari istana kerajaan dengan hina. Malam itu, Andalusia telah jatuh ke tangan kerajaan Katolik setelah berada di bawah kekuasaan Islam selama lebih dari 800 tahun atau sekitar 8 abad!

Saat itu, ia tinggalkan istana dengan hati pilu, dadanya begitu sesak. Ia berjalan hingga sampai di sebuah bukit yang cukup tinggi. Dari sana, ia menatap Istana Al Hambra yang begitu megah, dan kemudian ia menangis tersedu-sedu hingga jenggotnya basah kuyup dengan air mata.

Melihat hal itu, sang ibu yang berada di sampingnya berkata: “Menangislah! Menangislah seperti seorang perempuan! karena kau tidak mampu menjaga kerajaanmu sebagaimana laki-laki perkasa.”

Kekuasaan Islam berakhir di Andalusia. Umat Islam di sana diberi pilihan: Masuk kristen, dibunuh, atau diusir.

Apakah kalian tahu sebab jatuhnya Andalusia?

Karena: Cinta dunia, meninggalkan jihad, berkubang kemaksiatan, menyerahkan urusan bukan pada ahlinya, dan bodoh dalam hal agama.

Melihat kondisi umat Islam di negeri tercinta ini.  Persatuan kita dipecah belah, ulama difitnah, ormas-ormas Islam yang berani menuntut keadilan dianggap anti-Pancasila, anti kebhinekaan dan dianggap makar. Bayangkan Indonesia kedepan,  jika kita hanya berdiam diri dan perlahan melihat kehancuram bangsa kita. Pemuda Islam akan menangis tersedu-sedu dan ibu-ibu mereka berkata: “Menangislah! Menangislah seperti perempuan menangis! karena kau tidak bisa menjaga bangsamu sebagaimana mestinya seorang laki-laki.”

Pelajari baik-baik 5 faktor di atas, karena sebab-sebab kejatuhan itu akan selalu sama.

Apakah nasib Indonesia 5 atau 10 Tahun lagi akan seperti ANDALUSIA? Wallahu a’lam bish-shawab. Lakukan apa yang bisa kita lakukan hari ini, jangan pernah menjadi pengecut. Tetap semangat para pejuang.
Muda, Berpikir, Bergerk

Merdeka!!! 


Penulis : Dewi Yulianti
Editor   : Dzikri Amrullah