Refleksi Penyimpangan Akhir Tahun
Pada
masa kejayaan Romawi yang ketika itu berada di bawah kekuasaan Julius Caesar
yang kira-kira berada dalam kurun waktu Oktober 49 M – 15 Maret 44 SM, ada
sebuah kebiasaan yang dilakukan oleh kaum Skyth bangsa Romawi kuno, dimana pada
tanggal 31 Desember tepatnya pukul 00.00 malam, bangsa tersebut sering keluar
rumah melakukan kegaduhan di tengah malam dengan bunyi-bunyian seperti meniup
terompet dan hal-hal lainnya yang gaduh. Hal demikian sampai saat ini terus
dilakukan oleh masyarakat di seluruh dunia dalam setiap penyambutan tahun baru
Masehi, tidak terkecuali oleh masyarakat Indonesia.
Tidak bisa
disangkal memang, perayaan tahun baru Masehi identik dengan tiupan dan suara
terompet. Kegiatan ini selalu diakukan dan menjadi tradisi masyarakat Indonesia
saat menyambut malam pergantian tahun. Dari sejak dulu Nabi kita Shallallahu ‘alaihi
wa sallam telah memperingatkan bahwa umat ini akan mengikuti jejak orang
Persia, Romawi, Yahudi dan Nashrani. Dalam Hadist Rasulullah SAW pernah
bersabda, “Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian
sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang
kalian ikuti itu masuk ke lubang yang sempit sekalipun, pasti kalian pun akan
mengikutinya”. Kemudian para sahabat berkata, “Ya Rasullullah, apakah yang
diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR.
Muslim). Apa yang dikatakan Rasulullah memang sudah benar-benar terbukti sekarang
ini. Hal ini bisa kita lihat dalam fenomena perayaan penyambutan tahun baru
ini. Banyak kegiatan yang bertolak belakang dengan ajaran Islam yang dilakukan
oleh masyarakat muslim itu sendiri. Hal yang lumrah yang sering dilakukan
selain meniup terompet ialah menyalakan kembang api.
Banyak umat
Islam yang terlena dengan gemerlap kemewahan dari perayaan tahun baru ini. Hal
tersebut menjadi sebuah kegiatan yang selalu dilakukan oleh hampir seluruh
masyarakat kita. Padahal kita mengetahui bahwa Indonesia merupakan negara
dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Padahal sudah jelas-jelas
Rasulullah sendiri yang sudah memberi peringatan.
Mengapa hal demikian bisa terjadi? Padahal Islam memiliki identitas yang
berasal dari aqidah yang benar. Namun, dengan melakukan kegiatan yang diadopsi
dari bangsa Yahudi dan Nashrani seperti yang telah disebutkan di muka, apakah
kita sudah menerapkan aqidah Islam? Hal itu bisa dilihat dalam fenomena
perayaan tahun baru 2017.
Mungkin banyak orang yang
menghiraukan perkara tersebut. Tak banyak pula yang mengatakan “Lah, ini kan cuma
sekedar meniup terompet saja, kenapa dilarang?”
Nabi Shallallahu alaihi wa salam
pernah bersabda, “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk
kaum tersebut” (HR. Abu Dawud). Terkesan sepele memang perkara meniup terompet
ini. Namun, ketika hal sepele ini kita lakukan terus-menerus dan mengakar menjadi
kebudayaan di negara yang penduduknya mayoritas muslim, ini sudah diluar
kewajaran. Ini juga mencerminkan bahwa sedikit demi sedikit dan secara perlahan
jati diri kita sebagai muslim mulai tergerus oleh kebudayaan barat. Hal ini
meruapakan ancaman bagi Islam sendiri.
Sejatinya kita
sebagai muslim, tentu harus waspada terhadap budaya barat yang bertolak
belakang dengan ajaran Islam. Dalam hadist pun sudah jelas diterangkan
peringatan akan fenomena tersebut dan hal itu berarti supaya kita tidak
mengikuti budaya-budaya tersebut.
Sejatinya fenomena
perayaan penyambutan tahun baru ini kita isi untuk bersyukur dan sebagai
renungan diri karena masih diberikan umur sampai dengan saat ini. Sisa umur ini
seharusnya kita isi dengan hal-hal yang bermanfaat lagi bermakna.
Semoga tulisan
ini bisa bermanfaat bagi kita semua, khususnya bagi penulis sendiri yang masih
jauh dari kata sempurna namun tidak mengurangi keinginan penulis untuk terus
belajar kearah lebih baik lagi.
