Cendekiawan Muda Pergerakan Organisasi dari berbagai universitas di Indonesia yang berbasis keilmuan untuk mencerdaskan kehidupan Bangsa!

Rabu, 17 Mei 2017

Indonesia dalam Cengkraman




Soal jajahan adalah soal rugi atau untung; soal ini bukanlah soal kesopanan atau soal kewajiban; soal ini adalah soal mencari hidup, soal business (bisnis), (Soekarno). Soal jajahan bukanlah soal yang akan habis dimakan zaman, soal jajahan adalah soal nyawa; soal cara pemenuhan kebutuhan hidup agar bisa bernafas.

Soal jajahan takan pernah mati, umurnya abadi sampai akhir zaman. Soal jajahan adalah soal kreatifitas manusia, caranya takan pernah beku; caranya begitu cair menyesuaikan ruang. Penjajahan takan bisa berhenti; umurnya begitu panjang, berjalan terus seperti detik jam. Dari zaman pergulatan suku yang nomaden, zaman pertengahan hingga zaman modern pun penjajahan masih berjalan.

Penjajahan pada masa kolonial adalah penjajahan yang nyata terlihat oleh indra. Pergulatanya begitu jelas di muka, jutaan nyawa menjadi saksi bisu betapa kejamnya nafsu dunia. Ketika Eropa mulai ekspansi ke belahan dunia timur; Asia dan Afrika,  langit dan bumi menyaksikan betapa buasnya  manusia mencari makan. Lautan mereka arungi, sungai mereka lewati, bukit mereka daki, semua itu hanya untuk kekuasaan; kekuasaan mengatur yang lemah; kekuasaan untuk mengatur wilayah yang kaya akan sumber daya.

Maka jangan heran apabila segala upaya yang akan merintangi kepentingan ngara-negara penjajah akan menjadi sasaran untuk dimusnahkan.  Pergerakan kaum pribumi dalam melawan penjajahan tak luput dari sorotan negara penjajah; negara yang kehabisan sumber daya di wilayah asalnya. Tidak mengenal paham masing-masing pergerakan; sekalipun itu komunisme yang menggerakan; sekalipun nasionalisme yang  membangkitkan; sekakipun Islamisme yang menguatkan, maka jadilah pergerakan itu menjadi bidikan khusus untuk dihancurkan.

Inggris merasa ketakutan ketika Mesir dan India melakukan perlawanan untuk merdeka; maka tak heran apabila amerika dan prancis merasa cemas apabila Indo-China ingin bebas; maka tak heran apabila Belanda kalangkabut melihat Indonesia bersatu, mendorong untuk merdeka. Karena jika hal di atas benar-benar terjadi, maka rezeki negara penjajah akan terancam, negeri tuan-tuan akan balik dengan tangan hampa. Maka tuan-tuan penjajah tidak menganal ajaran maupun isme. Jerit kegemparanpun terjadi. Apapun itu bentuknya apabila merintangi kepentingan penjajah maka jadilah musuh mereka yang abadi.

Indonesia sudah merdeka, masihkah ada penjajahan?

Penjajahan saat ini bukanlah penjajahan seperti zaman cultuurstelsel, penjajahan saat ini bukanlah penjajahan seperti inggris menaklukan australia; memusnahkan suku aborigin dengan kekerasan fisik. Penjajahan sekarang merupakan penjajahan yang begitu halus, begitu lembut, tak kasat mata, namun dampaknya mampu memusnahkan suatu bangsa. Penjajahan pola fikir contohnya, mampu memusnahkan semua yang ada di negara terjajah, penerapan sistem yang diinginkan sukses melancarkan kepentingan ekonomi penjajah.

Negara-negara maju terus menindas negara berkembang yang kaya akan sumber daya alam. Mereka meracuni negara jajahan dengan sistem; meracuni  negara jajahan dengan aturan; meracuni negara jajahan dengan modal; meracuni negara jajahan dengan hutang. Dengan demikian sulitlah suatu negara berkembang seperti Indonesia mampu menyaingi negara maju yang menguasai segala faktor produksi.

Jerit kegembaran terjadi apabila Indonesia berdikari; orang-orang asing itu akan berkoar-koar kemudian menghalalkan segala cara agar Indonesia menjadi negara terbelakang. Kehawatiran yang begitu hebat bagi asing apabila korupsi sudah hilang. Para penjajah negeri ini cemas; panas dingin apabila bangsa ini bersatu dibawah komando ulama. Lebih-lebih apabila Pancasila berjalan dengan murni dan konsekuen.

Para penjajah akan semangat untuk mengadu domba bangsa ini, memecah belah dengan isu SARA. Para Ulama dibenturkan, aparatur negara dipecah, hukum dilemahkan, dan media masa dikuasai untuk membuat opini publik. 

Sudah sewajarnya sebagai seorang pribumi; orang Indonesia asli ingin mempertahankan tanah kelahiranya dari segala interpensi yang akan menjatuhkan Indonesia dipelukan asing. Jangan tertipu dengan segala isu yang dibangun untuk memecah belah bangsa. Hati-hati ketika asing mulai interpensi terhadap internal negara kita, itu menandakan bahwa sudah adanya ikatan untung-rugi. Apalagi menyusup mengaku-ngaku mengerti tentang pancasila, mengerti tentang kebhinekaan yang akan merusak sistem ketatanegaraan; mengamandemen UUD untuk membuka keran kepentingan asing.

 "Ingatlah… ingatlah… ingat pesanku lagi: Jika engkau mencari pemimpin, carilah yang dibenci, ditakuti atau dicacimaki asing, karena itu yang benar. Pemimpin tersebut akan membelamu di atas kepentingan asing itu. Dan janganlah kamu memilih pemimpin yang dipuji-puji asing, karena ia akan memperdayaimu (Soekarno)." 



Penulis   : Dzikri Amrullah

Minggu, 14 Mei 2017

Jejak Langkah: NASIONALISME, ISLAMISME, DAN MARXISME



Sudah sekian tahun lamanya Indonesia berada diseberang jembatan emas, suatau jembatan yang menghantarkan bangsa ini merdeka. Sudah sekian tahun lamanya dataran kegelapan kita tinggalkan dengan tergopoh-gopoh, merangkak demi penghidupan layak tanpa penjajahan. Ribuan pribumi dengan semangat membangun jembatan emas. Gotong royong: tidak mengenal agama, tidak mengenal suku, tidak mengenal ras, tidak pula mengenal bahasa. Satu cita mereka yaitu menghantarkan indonesia menuju kemerdekaan.
Menjegal, menumpas, menginjak, mengubur para kolonialis yang hendak menghancurkan jembatan mulia ini. Akal bergulat dengan iman, otot bergulat dengan bebanhanya demi satu tujuan yaitu indonesia merdeka! Dengan tekad yang bulat, dengan cita-cita yang sama, dengan ikrar yang satu yaitu bangsa Indonesia, akhirnya menghantarkan pada gerbang jembatan kemerdekaan.
Ratusan tahun lamanya nusantara terjerat politik kolonialisme. Penguasaan ekonomi secara berkelanjutan, sistem produksi mereka kendalikan, sistem lumbung dan tanah adat mereka hancurkan sehingga tak sedikit kemiskinan dan kelaparan terjadi dimana-mana. Siapa yang merasakan semua itu? Tidak lain merupakan bangsa pribumi!. Cultuurstelsel semakin mencekik rongga hidup pribumi secara perlahan. Kerja tanpa dibayar, penyewaan tanah dengan paksa, pungutan pajak yang selangit terus menyelimuti wilayah Hindia Besar.
Kondisi itu terus berlarut begitu lama. Kebodohan bercampur takut tak kuasa membuat mereka terus tunduk pada sang tuan. Tak sedikit pula dari pribumi yang menjadi penjilat sesamanya hanya karena fulus. Mereka terkena virus materialisme yang mempertuhankan fulus, jabatan, dan kehormatan. Tak iba rasanya walaupun keturunan yang berasal dari darah daging mereka menjadi korbanya. Yang penting ndoro senang dan aku punya jabatan.
Apakah kalian tahu material apa saja yang kuat menopang jutaan manusia menuju dataran yang merdeka? Menyebrangi sungai penderitaan yang tak terlihat dimana ujung daratanya. Tiga material inilah yang soekarno jual kepada dunia, yaitu NASAKOM!. Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme. Sejauh apapun ujung daratan kemerdekaan akan terlihat ketika kita punya cita-cita, punya kehendak dan ingin bersatu!. Karena sesunggunya imperialisme takan mampu melawan suatu bangsa yang bulat cita-citanya, bulat kehendaknya dan berpegang teguh dalam persatuan.
Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 merupakan sebuah klimaks para pribumi untuk bersatu; menyatukan tekad dalam diri untuk menghilangkan perbedaan demi melawan penjajahan. Berbagai golongan menjadi lebur; Jong Java, Jong Ambon; Jong Selebes; Jong Minahasa; para pemuda yang berjiwa nasionalis; para pemuda yang berjiwa agamis dan para pemuda yang berjiwa sosialis. Mereka bersatu padu dalam perbedaan demi tujuan yang sama yaitu menghilangkan penjajahan di Bumi Pertiwi.
Nasionalisme yang diusung oleh Soekarno bukanlah nasionalisme barat. Nasionalisme-Eropah, jalah suatu nasionalisme jang bersifat serang-menjerang, suatu nasionalisme jang mengedjar keperluan sendiri, suatu nasionalisme perdagangan jang untung atau rugi,­­-nasionalisme jang sematjam itu achirnja pastilahalah, pastilah binasa (Soekarno-Dibawah Bendera Revolusi: 6), bukan pula nasionalisme yang mengagung agungkan bangsa sendiri seperti halnya Hitler di Jerman. Nasionalisme kita merupakan suatu nasionalisme yang bercorak ketimuran yang mengenal adab kemanusiaan.
Pergerakan Nasionalisme terdapat banyak kesamaan dengan pergerakan Islamisme dan Marxisme. Ketiga pergerakan tersebut sama-sama melawan kapitalisme yang busuk dan menindas. Penjajahan dan penguasaan terhadap sumber daya di Indonesia oleh negara-negara eropa membuat Islam bangkit! Karena sesungguhnya perilaku negara-negara eropa sudah bertentangan dengan keyakinan pemeluk agama Islam. Memakan hasil jerih payah orang lain tentulah tidak dibenarkan dalam Islam. Paksa memaksa dalam perniagaan tentulah bukan etika ekonomi Islam. Membunuh manusia tanpa sebab tentulah suatu kebiadaban yang bertentanagn dengan hukum Islam. Maka sudah sewajarnya para umat Islam yang hidup di zamanya melakukan perlawanan dengan sengit.
Lihatlah bagaimana Syekh Mohammad Adboeh dan Syekh Djamaludin El Afghani yang membangkitkan spirit melawan imperialisme di Asia. Sebagai panglima Pan Islamisme mereka membuka penerang jalan untuk kejayaan kembali dunia Islam yang terpuruk akibat pendeknya akal kehidupan. Tertutup dengan dunia barat menjadikan imbas buruk bagi kebidupan Islam dalam suatu wilayah. Tertutup dengan dunia politik pun sama halnya, karena walau bagaimanapun kehidupan Rasulullah penuh dengan perpolitikan. Membuat siasat untuk menjaga agama Allah dari orang-orang munafik merupakan suatu kemuliaan dari pada beribadah hanya untuk dirinya semata.
Kebangkitan Islam menjadi sianida tersendiri bagi negara-negara penjajah. Gelombang pergerakan terus membesar ketika Syekh Djamaludin tak hentinya mengkhotbahkan kepada seluruh rakyatnya untuk berjuang melawan bahayanya kapitalisme barat. Perjuangan Islam melalui Pan-Islamisme tidak terbatas dalam sebuah teritori, melainkan seluruh Asia dan bahkan dunia. Gelombang pergerakan terus membara dari arab hingga ke ujung Afrika: Maroko. Dan menjalar pula ke negara Asia Tengah: India. Kemudian bersandar pula pada negara Hindia-Besar yakni Indonesia.
Perlawanan-perlawanan terhadap kapitalisme dilakukan pula oleh para penganut paham Marxisme. Dengan semangat juang yang membara mereka terus perjuangkan pertentangan kelas yang membagi masyarakat dalam dua kelas, yakni borjuis yang menindas dan ploletas yang tertindas. Keadilan sudah tak ada dalam kapitalisme. Penghisapan terhadap buruh membuat bangkit para ploletariat menuntut keadilan dan melawan penjajahan. Begitu banyaknya kaum-kaum ploletar di Indonesia pada masa penjajahan membuat subur paham Marxisme. Perjuangan Marxisme ini nampaknya sama pula dengan perjuangan Islamisme dan Nasionalisme.
Namun sangat disayangkan ternyata kaum Marxisme memiliki dasar pemikiran yang bertentangan dengan Islamisme dan Nasionalisme. Kebencian begitu hebat terhadap kaum-kaum beragama. Mereka mendakwa bahwa kaum agamawanlah yang melindungi para kapitalis. Dengan dalih agama, perlindungan terhadap kaum borjuis dalam menjalankan bisnisnya berjalan dengan mulus. Dengan dalih agama, seorang raja menjadi sewenang-wenang terhadap rakyatnya untuk memungut pajak hasil jerih keringatnya sendiri. Begitupun sebaliknya, para agamawan; pendeta eropa balik menyerang bahwa Marxisme hanya mengenal kebendaan (materialism) yang membuat rakyat jauh akan Tuhanya. Sehingga dalam perselisihanya itu keluarlah sebuah pernyataan dalam Manifesto Komunis bahwa Agama adalah candu dan harus dilenyapkan!
Bukan saja kaum agamawan yang diserang oleh Marxisme, namun para pejuang bangsa yang berpaham Nasionalisme pun sama saja. Mereka menegaskan bahwa politik kebangsaan harus dihapuskan, politik cinta tanah air harus dihilangkan. Karena perjuangan Marxisme tidak terbatas oleh wilayah, melainkan perjuangan yang mencakup seluruh dunia (internasionalism). Dengan jelas Marx dan Angel menyatakan bahwa kaum buruh tidak mempunyai tanah air!. Dengan demikian maka lahirlah istilah ubi bene, ibi patria: dimana aturan kerja bagus disitulah tanah air saya. Tidak ada batas teritori yang mengikat sama sekali terhadap kaum Marxisme. Semua itu dilakukan semata hanya dunia; mencari kenyamanan hidup, mengharapkan keadilan tanpa mengetahui keadilan.
Perlu diingat kawan, tulisan diatas terjadi bukan berada di Asia tentu pula bukan di Indonesia, melainkan di Eropa! Di negara serang menyerang, di negara ekonomi yang untung rugi. Perselisihan antara kaum Agamawan dengan Marxisme terjadi di Eropa, itu pun bukan berselisih dengan Islam yang rahmatan lillalamin. Sungguh tidak tepat apabila penggunaan paham demikian diterapkan di Indonesia. Cara-cara seperti itu merupakan cara-cara kuno yang tidak bisa diterapkan disegala zaman. Marx dan Angel bukanlah seorang nabi yang mampu membuat konsep seperti Islam. Pemikiran marx dan Angel tidak bisa diterapkan disemua wilayah, terutama wilayah timur seperti Indonesia.
Perselisihan-perselisihan yang terjadi antara Nasionalisme dengan Islamisme dan Marxisme haruslah diakhiri, perselisihan antara Islamisme dengan Nasionalisme dan Marxisme harus disudahi, perselisihan antara Marxisme dengan Nasionalisme dan Islamisme haruslah dikubur dalam-dalam. Perselisihan itu semua harus dihilangkan apabila Indonesia ingin merdeka. Perselisihan itu tidaklah pantas ada di negara jajahan, di negara yang belum merdeka. Yang dicari bukanlah kekuasaan, melainkan kemerdekaan.
Maka sudah sewajarnya apabila Soekarno terus meneriakan PERSATUAN! PERSATUAN! dan PERSATUAN!. Sebab kita yakin, bahwa persatuanlah yang kelak kemudian hari membawa kita ke arah terkabulnya impian kita: Indonesia Merdeka!. (Dibawah Bendera Revolusi). Tidak boleh ada perpecahan, tidak boleh ada permusuhan diantara tiga paham pergerakan ini. Karena sejatinya tiga material jembatan emas ini sama-sama melawan kapitalisme dan imperialisme barat yang menindas dan memporak porandakan Hindia-Besar ratusan tahun lamanya. Sumber daya habis dikeruk, ribuan nyawa lenyap. Semua itu hanya untuk kepentingan perutnya saja.
Semua yang ditulis diatas terjadi sebelum Indonesisa berada di seberang jembatan emas. Semua terjadi ketika proses pembuatan jembatan menuju kemerdekaan. Adapun permasalahan mengenai pergaulan hidup bisa diselesaikan setelah Indonesia merdeka. Janganlah befikir ngejelimat kata Soekarno dalam sidang penetapan dasar Indonesia merdeka. Harus ada ini, harus ada itu terlebih dahulu lalu kemudian merdeka. Apabila pemikiran menjelimet itu menyelimuti Negeri Arab maka tak mungkin Arab bisa merdeka, padahal 80% mayarakatnya adalah masyarakat Baduy. Tak mungkin pula Rusia bisa merdeka apabila berfikir ngejelimet, karena hampir 80% masyarakatnya tidak bisa baca dan tulis.
Nyatanya hari ini kita sudah melewati masa-masa gelap, masa penderitaan rakyat atas penindasan bangsa lain. Matahari kian semangatnya menyambut negara baru yang lahir. Negara bagian Arab turut bersenang hati melihat negara saudaranya bisa merdeka. Kita saat ini sudah melewati sungai kematian, sungai imperialisme dan kolonialisme. Di seberang jembatan emas ini sudah kita dirikan sebuah rumah dengan pondasi Pancasila. Dengan pondasi inilah maka lantai NKRI bisa tercipta sebagai pijakan mulus bangsa Indonesia. Tepat pada 18 Agustus 1945 dengan resmi lantai NKRI ditetapkan, yaitu UUD 1945. Secara resmi negara Indonesia haruslah melindungi bangsanya dari segala permasalahan hidup.
Yang lalu sudahlah berlalu. Masa kini jauh berbeda dengan masa kolonial. Tiga paham pergerakan itu tepatlah melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan kolonial, melakukan perlawanan atas dasar kemerdekaan untuk hidup. Yang mereka lawaan saat itu ialah bangsa penjajah yang kehabisan bakul nasi. Sehingga perlulah kita mengambil kembali hak-hak atas dasar bangsa dan tanah air. Kini bakul nasi harus sepenuhnya dikelola oleh negara. Lantas masihkah perlu tiga paham pergerakan itu untuk mempertahankan dan mengelola NKRI? Apakah konsep NASAKOM yang sudah Soekarno jual harus dihidupkan kembali paska reformasi? Apakah bisa masing-masing paham beriringan mengisi kemerdekaan?  Tentu tidak kawan! Kita sudah punya Pancasila sebagai dasar Indonesia merdeka. NKRI tidak butuh ideologi yang sudah lenyap dimakan zaman. Cukup dengan Pancasila dan UUD 1945 asli maka cita-cita bangsa ini bisa tercapai.
MERDEKA!!!
Muda, Berfikir, Bergerak!!!

Penulis  : Dzikri Amrullah

Belajar Bijak dari Andalusia


Tidak bisa dipungkiri, generasa muda bangsa saat ini belum sepenuhnya tersadarkan dengan kondisi negara yang semakin jauh dari jati dirinya. Masih banyak pemuda yang hanya memikirkan diri sendiri; asik dengan kehidupan pragmatis; lekat dengan hedonis: fun, food, fashion.

Generasi saat ini begitu dimanjakan oleh kemajuan zaman, keseharianya hanya disibukan dengan bermain social media. Waktunya tersita berjam-jam hanya untuk mencari trend fashion terkini di instagram, membaca status di facebook lebih digemari remaja saat ini dibanding membaca buku pelajaran, lebih senang mengamati riwayat mantan disbanding riwayat bangsanya sendiri.

Tidakkah terbesit dipikiran mereka apa tugas dari seorang pemuda?

Pemuda seharusnya mampu menjadi pelopor dalam menciptakan sebuah peeradaban yang luhur. Emosi yang masih berkobar-kobar menjadi suluh untuk membakar semangat juang dalam mewujudkan cita-cita founding father bangsa yang belum tercapai. Langkah awal dalam mewujudkan cita besar tersebut bisa dimulai dari hal-hal terkecil, belajar misalnya.

Dengan mempelajari berbagai disiplin ilmu, seorang pemuda akan mampu mengenali jati dirinya sendiri, mengetahui hakikat seorang pemuda. Salah satu disiplin ilmu yang penting dipelajari adalah sejarah. Mempelajari fenomena terdahulu sebagai rujukan untuk menjalankan kehidupan saat ini.

Mari kita lihat fenomena terdahulu, SEJARAH HANCURNYA ANDALUSIA.

Saat ini, kita mengenal bahwa kota-kota indah seperti Barcelona, Madrid, Valencia, Sevilla, Granada, Malaga, Cordova, tersohor sebagai basis klub-klub sepak bola ternama, serta menjadi tujuan wisata favorit di dunia.

Namun, ketahuilah bahwa pada masa lalu kota-kota tersebut dihuni oleh kaum muslimin dan berada di bawah pemerintahan Islam.

Kita sudah mengetahui bahwa kisah dari pemimpin muslim terakhir di Andalusia (Spanyol) adalah Abdillah Muhammad bin Al Ahmar. Ia keluar dari istana kerajaan dengan hina. Malam itu, Andalusia telah jatuh ke tangan kerajaan Katolik setelah berada di bawah kekuasaan Islam selama lebih dari 800 tahun atau sekitar 8 abad!

Saat itu, ia tinggalkan istana dengan hati pilu, dadanya begitu sesak. Ia berjalan hingga sampai di sebuah bukit yang cukup tinggi. Dari sana, ia menatap Istana Al Hambra yang begitu megah, dan kemudian ia menangis tersedu-sedu hingga jenggotnya basah kuyup dengan air mata.

Melihat hal itu, sang ibu yang berada di sampingnya berkata: “Menangislah! Menangislah seperti seorang perempuan! karena kau tidak mampu menjaga kerajaanmu sebagaimana laki-laki perkasa.”

Kekuasaan Islam berakhir di Andalusia. Umat Islam di sana diberi pilihan: Masuk kristen, dibunuh, atau diusir.

Apakah kalian tahu sebab jatuhnya Andalusia?

Karena: Cinta dunia, meninggalkan jihad, berkubang kemaksiatan, menyerahkan urusan bukan pada ahlinya, dan bodoh dalam hal agama.

Melihat kondisi umat Islam di negeri tercinta ini.  Persatuan kita dipecah belah, ulama difitnah, ormas-ormas Islam yang berani menuntut keadilan dianggap anti-Pancasila, anti kebhinekaan dan dianggap makar. Bayangkan Indonesia kedepan,  jika kita hanya berdiam diri dan perlahan melihat kehancuram bangsa kita. Pemuda Islam akan menangis tersedu-sedu dan ibu-ibu mereka berkata: “Menangislah! Menangislah seperti perempuan menangis! karena kau tidak bisa menjaga bangsamu sebagaimana mestinya seorang laki-laki.”

Pelajari baik-baik 5 faktor di atas, karena sebab-sebab kejatuhan itu akan selalu sama.

Apakah nasib Indonesia 5 atau 10 Tahun lagi akan seperti ANDALUSIA? Wallahu a’lam bish-shawab. Lakukan apa yang bisa kita lakukan hari ini, jangan pernah menjadi pengecut. Tetap semangat para pejuang.
Muda, Berpikir, Bergerk

Merdeka!!! 


Penulis : Dewi Yulianti
Editor   : Dzikri Amrullah

Jumat, 07 April 2017

Revolusi, Reformasi, atau Reforngantri?


Betapa sakitnya Bumi Pertiwi melihat pertikaian demi pertikaian hanya untuk kekuasaan. Rasanya seperti tersayat pisau; merobek sela pori-pori. Terlalu banyak harapan palsu yang diterimanya. Adakah pemuda yang siap memberi bukti untuk Bumi Pertiwi?


Mau jadi penonton ataukah  pemain? Silahkan kawan-kawan yang memilih.

Ayo revolusi! Indonesia sudah krisis! Kita harus segera revolusi!

Kata tersebut sering penulis dengar akhir-akhir ini di tengah berbagai permasalahan yang terjadi. Namun, apakah kita yakin akan melakukan revolusi? Sudah sejauh mana konsep kita untuk membangun bangsa ini? Sudah matangkah dengan cita-cita luhur bangsa ini? Jangan sampai kita bisa membongkar tapi tidak bisa memasang kembali, tambah hancur bangsa ini!

Pernahkah Indonesia setelah terbentuknya NKRI pada 18 Agustus 1945 mengalami sebuah revolusi? Apakah ketika sekumpulan mahasiswa menurunkan Soeharto dari Orde Baru dikatakan sebuah revolusi?

Di satu sisi penulis bertanya-tanya, apakah Soeharto turun karena desakan mahasiswa? Atau desakan dari pihak lain? Jika sekelas preman dan komplotan pembuat teror saja bisa di tumpas, mengapa Soeharto bisa turun hanya karena mahasiswa berdemo? Dan ketika penurunan Soeharto, apakah semua mahasiswa kontra terhadapnya?

Sebagai perbandingan, dalam tubuh militer pun terbagi menjadi dua kubu: ada ABRI merah dan hijau. Lalu, bagaimana dalam lingkup mahasiswa, adakah kubu pro terhadap Soeharto?

Di sisi lain, dengan HAM yang mengusung kebebasan pers dan mengemukakan pendapat, membuat peran media massa bergerak bebas, meluncurkan berbagai propaganda. Sehingga, berhasil menggiring opini publik seakan semua mahasiswa kontra terhadapnya.

Revolusi yang sesungguhnya belumlah terjadi! Adapun yang pernah terjadi adalah tindakan makar oleh oknum-oknum penghancur bangsa ini yang menggulingkan Orde Baru ke Era Reformasi.

Lihatlah, hasil dari para oknum yang kini duduk nyaman di bangku pemerintahan! Bagaimana Pancasila bisa berjalan jika UUD 1945 asli sebagai nilai-nilainya di rubah dan di hancurkan dengan dalih amandemen. Padahal, sebuah amandemen seharusnya memperbaiki, bukan merusak dengan memasukan nilai-nilai yang tidak sesuai dengan Pancasila yang mengedepankan kebebasan dan hak, tanpa mempertimbangkan kewajiban dan keadilan. Merekalah yang sebenar-benarnya pelaku makar!

Ingat! Makna revolusi berbeda dengan reformasi! Jika sudah demikian apa yang harus kita lakukan? Ketika krisis keadilan dan krisis kewibawaan lembaga negara sudah terjadi sejak reformasi, apakabar keadaan 2017 ini? Haruskah kita menunggu kehancuran yang terjadi pada tubuh NKRI ini dengan pasrah dan apatis?

Tak tepat kiranya jika kita melakukan revolusi sekarang, sebab kekuatan rakyat masih terpecah belah. Jika kita memaksakan untuk revolusi, maka yang kita hadapi adalah saudara sebangsa kita sendiri. Hal ini terlihat dari fenomena hangat tentang Ahok. Bukankah segala masalah bisa dihadapi jika bangsa ini bersatu?

Mari, kita tunggu tanggal mainnya dengan tetap belajar dan mendidik. Sebab, untuk mencapai kemerdekaan, rakyat harus cerdas. Sehingga cita-cita untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa bisa terwujud!
Semoga bermanfaat.
NKRI harga mati! Merdeka!
Ajeu kendor!
Muda, Berpikir, Bergerak!

Penulis : Sri Ayu Wahyuni
Editor  : Dzikri Amrullah

Ibu Siti, Motivasi Hidupku





Jangan keseringan mengeluh, karena hal itu tidak akan mengubah keadaan. Tetap semangat menjalankan hidup, dan mensyukuri atas nikmat yang Allah SWT berikan.

Sepekan lalu, penulis bertemu dengan seorang wanita yang diperkirakan usianya sudah 45 tahun. Di teras rumah milik sang kakak, penulis berbincang dengan wanita tersebut yang dipanggil ibu Siti. 

Beliau menceritakan tentang kehidupannya sejak ditinggal mati oleh kedua orangtuanya. Dengan penuh perhatian, penulis menatap wajahnya dan ikut merasakan pilunya kehidupan beliau.

Ibu Siti merupakan anak perempuan pertama yang ditinggal mati pascapernikahannya saat itu. Beliau harus mengurus enam adiknya yang masih sekolah. Dengan perannya sebagai anak pertama, beliau selalu mengajarkan nilai-nilai kehidupan kepada semua adiknya. Belajar untuk hidup mandiri, jujur, dan saling tolong menolong antar saudara tanpa ada hitung-hitungan.

Dalam ceritanya, ibu Siti sangat menyayangkan karena salah satu anaknya putus kuliah dan lebih memilih berkarir. Padahal, menurut ibu Siti pendidikan itu penting dan selama orangtua mampu kenapa tidak untuk menguliahkannya.

Dengan nada yang begitu antusias dan harapan kosong, ibu Siti membandingkan keinginannya ketika lulus SMA. Beliau ingin sekali bisa lanjut kuliah. "Ibu mah, waktu dulu ingin banget bisa kuliah. Tapi mau gimana lagi, kalau keadaan orangtua seperti itu dan masih punya adik-adik yang kecil," tutur ibu Siti.

"Dari dulu ibu itu suka belajar, soalnya dari kecil ikut bapak kesana-kesini ngajar di sekolah. Cuma ibu neng yang sekolahnya itu dari Tsanawiyah ke Aliyah. Sedangkan, adik-adik ibu mah sekolahnya di umum semua," lanjut beliau dalam menceritakan semangat hidupnya.

Meski usianya tak lagi muda, semangat beliau untuk tetap belajar jelas terlihat dari wajahnya. Ibu Siti hingga kini masih aktif dalam kegiatannya sebagai vokalis dalam tim qasidah ibu-ibu pada pengajian di sekitar rumahnya.


Semoga kita semua terinspirasi untuk semangat belajar tanpa mengeluh. Semangat kakak!

Muda, Berfikir, Bergerak!

Penulis   : Robiatul Adawiah R.
Editor    : Dzikri Amrullah


Di Balik Senyuman






Meski lelah telah mendatangi tubuh ini, hati rasanya bahagia bila melihat senyum dari kakak semua. Semangat ya, jangan lupa untuk selalu bahagia.

Ingat kak! Senyum merupakan bagian dari akhlak dalam islam. Senyuman ini dapat melukiskan perasaan senang ketika berjumpa dengan seseorang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: "Janganlah sekali-kali engkau menganggap remeh suatu perbuatan baik, meskipun (perbuatan baik itu) dengan engkau menjumpai saudaramu (sesama muslim) dengan wajah yang ceria." (HR Muslim).

Dengan begitu, maka selayaknya bagi kita untuk tidak bermuka masam apabila bertemu dengan saudara kita. Hadiahkanlah senyuman terbaik yang kita miliki. Demikianlah Islam menjadikan segala sesuatu menjadi bernilai ibadah dan berkah.

Tapi jangan senyum-senyum sendiri juga ya, karena semua pun ada tempatnya. Kapan waktu yang pas untuk tersenyum? Yaitu saat kita sedang bertemu dengan orang lain, saat kita menyambut tamu, bahkan saat kita sedang di timpa masalah sekalipun.

Tersenyum adalah obat yang mujarab untuk mengurangi beban yang sedang kita punya. Ini adalah salah satu hikmah dari tersenyum.

Begitu pula disebutkan dalam hadits lain mengenai sebuah senyuman yang diriwayatkan At-Tirmidzi, Al-Husein Radliyallahu’anhu, cucu Rasulullah SAW menuturkan keluhuran budi pekerti beliau.

Ia berkata, ”Aku bertanya kepada Ayahku tentang adab dan etika Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam terhadap orang-orang yang bergaul dengan beliau. Ayahku menuturkan, ‘Beliau Shallahu ‘alaihi wa Sallam senantiasa tersenyum, berbudi pekerti lagi rendah hati, beliau bukanlah seorang yang kasar, tidak suka berteriak-teriak, bukan tukang cela, tidak suka mencela makanan yang tidak disukainya. Siapa saja mengharapkan pasti tidak akan kecewa dan siapa saja yang memenuhi undangannya pasti akan senantiasa puas.” (HR Tirmidzi).

Penulis  : Robiatul Adawiyah R.

Editor   : Dzikri Amrullah

Kamis, 02 Maret 2017

Ada Skandal di pasar ini



Assalamu’alaikum para cendekiawan muda, semoga sehat selalu.


Black market merupakan fenomena unik, yang memungkinkan pemasaran atas produk tersebut terbebas dari bea cukai maupun bea masuk. Bagaimana tidak? Dikarenakan harga yang di tawarkan relatif sangat murah dari harga pasar, dan kualitasnya pun terjamin. Kini produk black market yang menjadi primadona para konsumen ialah gadget. Wow...! gadget yang berkelas premium di jual dengan harga murah, siapa yang tidak mau?

HP merek sumsang, apel di gigit, serta merek lainnya yang go internasional sangat di minati oleh konsumen black market. Dari data yang saya peroleh, transaksi terhadap barang bebas cukai tersebut mudah di dapati karena black market sudah menyusupi tiap-tiap daerah di Indonesia, bahkan, di pasar resmi pun masih bisa bila kita mau tanya dan punya link pada si penjual, wow... super sekali. Sebut saja si Black “Mau nyari black market mah gampang, di gua juga bisa. Di daerah Tangerang ini sudah menyebar black market, mulai dari daerah Karawaci, Perum dan sekitarnya,” Ujarnya. Wah, sangat menggiurkan,.. tapi bagaimana dampaknya terhadap prekonomian di indonesia? Yah, pasti terganggu dong, dan bahkan jadi masalah, pertanyaannya mengapa?

Pertama, produk yang masuk ke Indonesia melebihi kapasitas yang di tentukan. Wah, masyarakat Indonesia semakin konsumtif saja. Menurut data dari VNI (Visual Networking Index) Forecast Cisco pada tahun 2011, hanya dalam satu tahun pemilik gadget di Indonesia meningkat 50 juta menjadi 300 juta pengguna. Wow... wow... wow... ini tambah banyak saja pengguna smartphone di indonesia. Ini akan jadi pasar Lazisss buat black market. Jadi, di Indonesia orang akan mempunyai lebih dari 3 smartphone.

Kedua, pasti bakal merugikan Negara, bagaimana tidak ? barang itu lepas dari pajak, dan menjadi hambatan pajak serta penyimpangan terhadap bea cukai.

Ketiga, pasti menguntungkan bagi pihak penyelundup yaitu orang-orang cina. Teman saya yang ikut dalam kegiatan black market berkata bahwa sebagian besar penyelundup produk black market adalah orang-orang Cina. Memang hebat, mereka tidak hanya memecah politik bangsa ini, tetapi juga memecah mindset perekonomian orang Indonesia.

Sumber referensi tulisan:
 1. Survey lapangan
 2. Buku Pengantar perpajakan karya prof. Dr. Mardiasmo, MBA.,AK. Tentang bea cukai
 3. http://www.kompasiana.com/rifqy-tazkiyyaturrohmah/pengaruh-dari-maraknya-perdagangan-produk-black-market-di-indonesia_558d6e861597730c14fee034

Selasa, 28 Februari 2017

Puisi ini buat engkau para Penguasa !!



Dentuman keras
Menusuk dari hati yang dalam
Merobek jiwa rakyat polos
Di kursi dia tertawa

Wahai pencuri hati rakyat
Dirimu dihormati rakyat
Namun apa kau hormati juga
Darah perjuangan rakyatmu

Akankah kau menangis
Berdandan diatas bahagianya
Tiang pancang penuh candu
Kokoh dalam pulau sipit manis

Dia juga dia
Dia menusuk sia sia
Dalam kertas penuh bualan
Dibuat penuh rayu gombal

Apa kau masih tertidur manis
Berkaca dalam fana Demokrasi
Sementara sibadut penuh luka
Bersumpah serapah penuh bual

Penulis  : Ghailand Adam Al Farabi
Editor    : Alandxtreme

Muda, Berfikir, Bergerak !

MENYEDIHKAN !! MANA BUKTI CINTAMU...




Kamu cinta budaya Indonesia? 

Kok, bukannya dihargai tapi malah dibiarkan? Wajar saja ketika ada yang menghargai dia berpindah hati.

Indonesia adalah negara yang unik terbentuk dari bangsa ke negara. Namun ketika negara sebagai bangunan mulai dirusak dari dalam, lalu bagaimana kabar jati diri bangsa sebagai pondasinya? 

Adakah rohmu masih mendarah daging pada budaya dan adat di Indonesia? 

Apakah keberadaan lagu daerah, pakaian adat, dan rumah adat hanya tergambar pada buku paket di sekolah? 

Tergambar dan terukir tentunya berbeda. Lalu kemana perginya ukiran budaya Indonesia? 

Hilangkah atau berpindah ke lain tangan? 

Bukankah budaya adalah bukti dari sebuah peradaban?

Indonesia terbentang dari Sabang hingga Merauke, dimana setiap jengkal daerahnya memiliki beragam kebudayaan sebagai hasil interaksi dengan kenampakan alam dan makhluk hidup di lingkungannya. Hal ini terlihat dari kekhasan rumah-rumah yang didirikan, pakaian, tarian, lagu, makanan, permainan, dan pengetahuan yang dimajukannya sebagai ukiran sebuah  peradaban. Sehingga hal tersebut semakin menambah nilai keanggunan Indonesia sebagai bangsa yang berbudaya dimata negara lain. 

Fenomena yang terlihat bukan hanya sumber daya alam Indonesia saja yang menjadi perebutan negara besar, bahkan kini merekapun ingin meng-claim budaya Indonesia. Sebab ketika mata tajam sudah mengintai, maka ketika ada kesempatan berterbanganlah segala tawaran menarik hingga tangan mampu menggapai apa yang diinginkan.

Negeri dimana tongkat dan kayu jadi tanaman, dengan segala kekayaannya kini mulai terampas berliannya satu persatu, perlahan hingga akan berakhir seperti dongeng di penghujung malam sebelum tidur. 

Apakah ini yang kita harapankan? 

Negeri Indonesia yang tinggal kisahnya saja? 

Miris, namun ini realistis. Terlihat kini kebudayaan Indonesia menjadi asing di negaranya sendiri. Adakah yang salah dan ketidaksesuaian disini?

Adakah penduduk asli masih memegang budayanya ditengah perkembangan jaman?

Ketika lagu daerah sudah tak dikenal dibanding lagu pop dan lagu barat, ketika pakaian adat sudah terlihat kuno, ketika rumah adat berganti rumah modern, lalu dimana letak budaya milik penduduk asli daerahnya? 

Katanya cinta dan bangga dengan tanah air Indonesia, tapi diri sendiri acuh tak acuh pada budayanya. Barulah rasa kepemilikan datang ketika budayanya sudah di claim negara lain.

Sepertinya yang kita ketahui budaya erat kaitannya dengan lingkungan. Di lingkungan itu ada tanah, tumbuhan dan makhluk hidup lainnya. Namun anehnya mengapa mudah sekali masyarakat menjual tanahnya yang juga berarti menjual lingkungannya. Demi segepok uang yang habis dalam bulan ke bulan rela menggadaikan masa depan anak-cucunya.

Luar biasa taktik yang dimainkan beda jaman beda tokoh tapi satu polakata-kata itulah yang tepat untuk fenomena yang terjadi. Jika dahulu sebelum bangsa ini terbentuk, kita berada dibawah etika kerajaan seperti Sriwijaya dan Majapahit. Namun seiring semakin derasnya arus perdagangan menarik para penjajah hingga kita dikenalkan dengan budaya feodalistis, dengan mengambil alih tanah pribumi secara paksa (penaklukan). Dan adakah polanya sama seperti sekarang? Bahkan lebih miris! Masyarakat rela menjual tanahnya sendiri, bukan karena terdesak oleh penjajah, tapi terdesak oleh ego melihat tetangga sebelah beli motor baru.

Dan lihatlah sekarang tanah air kita tergadaikan, budaya kita jadi kisah klasik yang jadi rebutan, hukum kita dirusak etika dan moralnya, ekonomi berpihak pada kaum bermodal, pendidikan tak lebih dari sebuah mesin faktor produksi, dan politik yang menjadi papan hitam-putihnya.

Dan penulis yakin, pembaca sudah mengetahui siapa tokoh yang sedang memainkan pionnya. Apakah kita hanya mau menjadi penonton atau komentator? 

Haduh bukan waktunya lagi kawan, kita sedang menghadapi krisis multidimensional termasuk krisis kebudayaan (etika-moral). Udah deh kok masih mau berunding dengan maling yang menjarah rumahmu sendiri, yuk revolusi. Eits tapi jangan asal revolusi yak kalo gapunya konsep yang matang, khawatir bukan perbaikan tapi pengerusakan lebih parah seperti era reformasi.

Ah sudahlah lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk dalam kegelapan.

Ingat Tuhan menurunkan kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia bukan tanpa sebab, karena segala sesuatunya sudah ditentukan oleh-Nya. Dan tanggungjawab kita semua sebagai bangsa Indonesia untuk mempertahankan jati diri bangsanya, termasuk melestarikan budaya di Indonesia. 

Katanya cinta.. harus dijaga dong...

Penulis  : Sri Ayu Wahyuni S.Pd
Editor    : Alandxtreme

Muda, Berfikir, Bergerak !