Sudah sekian tahun lamanya Indonesia berada diseberang jembatan emas,
suatau jembatan yang menghantarkan bangsa ini merdeka. Sudah sekian tahun
lamanya dataran kegelapan kita tinggalkan dengan tergopoh-gopoh, merangkak demi penghidupan layak tanpa penjajahan.
Ribuan pribumi dengan semangat membangun jembatan emas. Gotong royong: tidak
mengenal agama, tidak mengenal suku, tidak mengenal ras, tidak pula mengenal
bahasa. Satu cita mereka yaitu menghantarkan indonesia menuju kemerdekaan.
Menjegal, menumpas, menginjak, mengubur para kolonialis yang hendak
menghancurkan jembatan mulia ini. Akal bergulat dengan iman, otot bergulat
dengan bebanhanya demi satu tujuan yaitu indonesia merdeka! Dengan tekad yang
bulat, dengan cita-cita yang sama, dengan ikrar yang satu yaitu bangsa
Indonesia, akhirnya menghantarkan pada gerbang jembatan kemerdekaan.
Ratusan tahun lamanya nusantara terjerat politik kolonialisme.
Penguasaan ekonomi secara berkelanjutan, sistem produksi mereka kendalikan, sistem
lumbung dan tanah adat mereka hancurkan sehingga tak sedikit kemiskinan dan
kelaparan terjadi dimana-mana. Siapa yang merasakan semua itu? Tidak lain
merupakan bangsa pribumi!. Cultuurstelsel
semakin mencekik rongga hidup pribumi secara perlahan. Kerja tanpa dibayar,
penyewaan tanah dengan paksa, pungutan pajak yang selangit terus menyelimuti
wilayah Hindia Besar.
Kondisi itu terus berlarut begitu lama. Kebodohan bercampur takut tak
kuasa membuat mereka terus tunduk pada sang tuan. Tak sedikit pula dari pribumi
yang menjadi penjilat sesamanya hanya karena fulus. Mereka terkena virus
materialisme yang mempertuhankan fulus,
jabatan, dan kehormatan. Tak iba rasanya walaupun keturunan yang berasal dari
darah daging mereka menjadi korbanya. Yang penting ndoro senang dan aku punya jabatan.
Apakah kalian tahu material apa saja yang kuat menopang jutaan manusia
menuju dataran yang merdeka? Menyebrangi sungai penderitaan yang tak terlihat
dimana ujung daratanya. Tiga material inilah yang soekarno jual kepada dunia,
yaitu NASAKOM!. Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme. Sejauh apapun ujung
daratan kemerdekaan akan terlihat ketika kita punya cita-cita, punya kehendak
dan ingin bersatu!. Karena sesunggunya imperialisme takan mampu melawan suatu
bangsa yang bulat cita-citanya, bulat kehendaknya dan berpegang teguh dalam
persatuan.
Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 merupakan sebuah klimaks para
pribumi untuk bersatu; menyatukan tekad dalam diri untuk menghilangkan
perbedaan demi melawan penjajahan. Berbagai golongan menjadi lebur; Jong Java, Jong
Ambon; Jong Selebes; Jong Minahasa; para pemuda yang berjiwa nasionalis; para
pemuda yang berjiwa agamis dan para pemuda yang berjiwa sosialis. Mereka
bersatu padu dalam perbedaan demi tujuan yang sama yaitu menghilangkan penjajahan
di Bumi Pertiwi.
Nasionalisme yang diusung oleh Soekarno bukanlah nasionalisme barat.
Nasionalisme-Eropah, jalah suatu nasionalisme jang bersifat serang-menjerang,
suatu nasionalisme jang mengedjar keperluan sendiri, suatu nasionalisme perdagangan
jang untung atau rugi,-nasionalisme jang sematjam itu achirnja pastilahalah,
pastilah binasa (Soekarno-Dibawah Bendera Revolusi: 6), bukan pula nasionalisme
yang mengagung agungkan bangsa sendiri seperti halnya Hitler di Jerman.
Nasionalisme kita merupakan suatu nasionalisme yang bercorak ketimuran yang
mengenal adab kemanusiaan.
Pergerakan Nasionalisme terdapat banyak kesamaan dengan pergerakan
Islamisme dan Marxisme. Ketiga pergerakan tersebut sama-sama melawan
kapitalisme yang busuk dan menindas. Penjajahan dan penguasaan terhadap sumber
daya di Indonesia oleh negara-negara eropa membuat Islam bangkit! Karena
sesungguhnya perilaku negara-negara eropa sudah bertentangan dengan keyakinan
pemeluk agama Islam. Memakan hasil jerih payah orang lain tentulah tidak
dibenarkan dalam Islam. Paksa memaksa dalam perniagaan tentulah bukan etika
ekonomi Islam. Membunuh manusia tanpa sebab tentulah suatu kebiadaban yang
bertentanagn dengan hukum Islam. Maka sudah sewajarnya para umat Islam yang
hidup di zamanya melakukan perlawanan dengan sengit.
Lihatlah bagaimana Syekh Mohammad Adboeh dan Syekh Djamaludin El
Afghani yang membangkitkan spirit melawan imperialisme di Asia. Sebagai
panglima Pan Islamisme mereka membuka penerang jalan untuk kejayaan kembali
dunia Islam yang terpuruk akibat pendeknya akal kehidupan. Tertutup dengan
dunia barat menjadikan imbas buruk bagi kebidupan Islam dalam suatu wilayah.
Tertutup dengan dunia politik pun sama halnya, karena walau bagaimanapun
kehidupan Rasulullah penuh dengan perpolitikan. Membuat siasat untuk menjaga
agama Allah dari orang-orang munafik merupakan suatu kemuliaan dari pada
beribadah hanya untuk dirinya semata.
Kebangkitan Islam menjadi sianida
tersendiri bagi negara-negara penjajah. Gelombang pergerakan terus membesar
ketika Syekh Djamaludin tak hentinya mengkhotbahkan kepada seluruh rakyatnya
untuk berjuang melawan bahayanya kapitalisme barat. Perjuangan Islam melalui
Pan-Islamisme tidak terbatas dalam sebuah teritori, melainkan seluruh Asia dan
bahkan dunia. Gelombang pergerakan terus membara dari arab hingga ke ujung
Afrika: Maroko. Dan menjalar pula ke negara Asia Tengah: India. Kemudian
bersandar pula pada negara Hindia-Besar yakni Indonesia.
Perlawanan-perlawanan terhadap kapitalisme dilakukan pula oleh para
penganut paham Marxisme. Dengan semangat juang yang membara mereka terus
perjuangkan pertentangan kelas yang membagi masyarakat dalam dua kelas, yakni
borjuis yang menindas dan ploletas yang tertindas. Keadilan sudah tak ada dalam
kapitalisme. Penghisapan terhadap buruh membuat bangkit para ploletariat
menuntut keadilan dan melawan penjajahan. Begitu banyaknya kaum-kaum ploletar
di Indonesia pada masa penjajahan membuat subur paham Marxisme. Perjuangan
Marxisme ini nampaknya sama pula dengan perjuangan Islamisme dan Nasionalisme.
Namun sangat disayangkan ternyata kaum Marxisme memiliki dasar
pemikiran yang bertentangan dengan Islamisme dan Nasionalisme. Kebencian begitu
hebat terhadap kaum-kaum beragama. Mereka mendakwa bahwa kaum agamawanlah yang
melindungi para kapitalis. Dengan dalih agama, perlindungan terhadap kaum
borjuis dalam menjalankan bisnisnya berjalan dengan mulus. Dengan dalih agama,
seorang raja menjadi sewenang-wenang terhadap rakyatnya untuk memungut pajak
hasil jerih keringatnya sendiri. Begitupun sebaliknya, para agamawan; pendeta
eropa balik menyerang bahwa Marxisme hanya mengenal kebendaan (materialism) yang membuat rakyat jauh
akan Tuhanya. Sehingga dalam perselisihanya itu keluarlah sebuah pernyataan
dalam Manifesto Komunis bahwa Agama adalah candu dan harus dilenyapkan!
Bukan saja kaum agamawan yang diserang oleh Marxisme, namun para
pejuang bangsa yang berpaham Nasionalisme pun sama saja. Mereka menegaskan
bahwa politik kebangsaan harus dihapuskan, politik cinta tanah air harus
dihilangkan. Karena perjuangan Marxisme tidak terbatas oleh wilayah, melainkan
perjuangan yang mencakup seluruh dunia (internasionalism).
Dengan jelas Marx dan Angel menyatakan bahwa kaum buruh tidak mempunyai tanah
air!. Dengan demikian maka lahirlah istilah ubi
bene, ibi patria: dimana aturan kerja bagus disitulah tanah air saya. Tidak
ada batas teritori yang mengikat sama sekali terhadap kaum Marxisme. Semua itu
dilakukan semata hanya dunia; mencari kenyamanan hidup, mengharapkan keadilan
tanpa mengetahui keadilan.
Perlu diingat kawan, tulisan diatas terjadi bukan berada di Asia tentu
pula bukan di Indonesia, melainkan di Eropa! Di negara serang menyerang, di
negara ekonomi yang untung rugi. Perselisihan antara kaum Agamawan dengan
Marxisme terjadi di Eropa, itu pun bukan berselisih dengan Islam yang rahmatan
lillalamin. Sungguh tidak tepat apabila penggunaan paham demikian diterapkan di
Indonesia. Cara-cara seperti itu merupakan cara-cara kuno yang tidak bisa
diterapkan disegala zaman. Marx dan Angel bukanlah seorang nabi yang mampu
membuat konsep seperti Islam. Pemikiran marx dan Angel tidak bisa diterapkan
disemua wilayah, terutama wilayah timur seperti Indonesia.
Perselisihan-perselisihan yang terjadi antara Nasionalisme dengan
Islamisme dan Marxisme haruslah diakhiri, perselisihan antara Islamisme dengan
Nasionalisme dan Marxisme harus disudahi, perselisihan antara Marxisme dengan
Nasionalisme dan Islamisme haruslah dikubur dalam-dalam. Perselisihan itu semua
harus dihilangkan apabila Indonesia ingin merdeka. Perselisihan itu tidaklah
pantas ada di negara jajahan, di negara yang belum merdeka. Yang dicari
bukanlah kekuasaan, melainkan kemerdekaan.
Maka sudah sewajarnya apabila Soekarno terus meneriakan PERSATUAN!
PERSATUAN! dan PERSATUAN!. Sebab kita yakin, bahwa persatuanlah yang kelak
kemudian hari membawa kita ke arah terkabulnya impian kita: Indonesia Merdeka!.
(Dibawah Bendera Revolusi). Tidak boleh ada perpecahan, tidak boleh ada
permusuhan diantara tiga paham pergerakan ini. Karena sejatinya tiga material
jembatan emas ini sama-sama melawan kapitalisme dan imperialisme barat yang
menindas dan memporak porandakan Hindia-Besar ratusan tahun lamanya. Sumber
daya habis dikeruk, ribuan nyawa lenyap. Semua itu hanya untuk kepentingan
perutnya saja.
Semua yang ditulis diatas terjadi sebelum Indonesisa berada di
seberang jembatan emas. Semua terjadi ketika proses pembuatan jembatan menuju
kemerdekaan. Adapun permasalahan mengenai pergaulan hidup bisa diselesaikan
setelah Indonesia merdeka. Janganlah befikir ngejelimat kata Soekarno dalam sidang penetapan dasar Indonesia
merdeka. Harus ada ini, harus ada itu terlebih dahulu lalu kemudian merdeka.
Apabila pemikiran menjelimet itu
menyelimuti Negeri Arab maka tak mungkin Arab bisa merdeka, padahal 80%
mayarakatnya adalah masyarakat Baduy. Tak mungkin pula Rusia bisa merdeka
apabila berfikir ngejelimet, karena
hampir 80% masyarakatnya tidak bisa baca dan tulis.
Nyatanya hari ini kita sudah melewati masa-masa gelap, masa
penderitaan rakyat atas penindasan bangsa lain. Matahari kian semangatnya
menyambut negara baru yang lahir. Negara bagian Arab turut bersenang hati
melihat negara saudaranya bisa merdeka. Kita saat ini sudah melewati sungai
kematian, sungai imperialisme dan kolonialisme. Di seberang jembatan emas ini
sudah kita dirikan sebuah rumah dengan pondasi Pancasila. Dengan pondasi inilah
maka lantai NKRI bisa tercipta sebagai pijakan mulus bangsa Indonesia. Tepat
pada 18 Agustus 1945 dengan resmi lantai NKRI ditetapkan, yaitu UUD 1945.
Secara resmi negara Indonesia haruslah melindungi bangsanya dari segala
permasalahan hidup.
Yang lalu sudahlah berlalu. Masa kini jauh berbeda dengan masa
kolonial. Tiga paham pergerakan itu tepatlah melakukan pemberontakan terhadap
pemerintahan kolonial, melakukan perlawanan atas dasar kemerdekaan untuk hidup.
Yang mereka lawaan saat itu ialah bangsa penjajah yang kehabisan bakul nasi.
Sehingga perlulah kita mengambil kembali hak-hak atas dasar bangsa dan tanah
air. Kini bakul nasi harus sepenuhnya dikelola oleh negara. Lantas masihkah perlu
tiga paham pergerakan itu untuk mempertahankan dan mengelola NKRI? Apakah
konsep NASAKOM yang sudah Soekarno jual harus dihidupkan kembali paska
reformasi? Apakah bisa masing-masing paham beriringan mengisi kemerdekaan? Tentu tidak kawan! Kita sudah punya Pancasila
sebagai dasar Indonesia merdeka. NKRI tidak butuh ideologi yang sudah lenyap
dimakan zaman. Cukup dengan Pancasila dan UUD 1945 asli maka cita-cita bangsa
ini bisa tercapai.
MERDEKA!!!
Muda,
Berfikir, Bergerak!!!
Penulis : Dzikri Amrullah