Minggu, 14 Mei 2017

Belajar Bijak dari Andalusia


Tidak bisa dipungkiri, generasa muda bangsa saat ini belum sepenuhnya tersadarkan dengan kondisi negara yang semakin jauh dari jati dirinya. Masih banyak pemuda yang hanya memikirkan diri sendiri; asik dengan kehidupan pragmatis; lekat dengan hedonis: fun, food, fashion.

Generasi saat ini begitu dimanjakan oleh kemajuan zaman, keseharianya hanya disibukan dengan bermain social media. Waktunya tersita berjam-jam hanya untuk mencari trend fashion terkini di instagram, membaca status di facebook lebih digemari remaja saat ini dibanding membaca buku pelajaran, lebih senang mengamati riwayat mantan disbanding riwayat bangsanya sendiri.

Tidakkah terbesit dipikiran mereka apa tugas dari seorang pemuda?

Pemuda seharusnya mampu menjadi pelopor dalam menciptakan sebuah peeradaban yang luhur. Emosi yang masih berkobar-kobar menjadi suluh untuk membakar semangat juang dalam mewujudkan cita-cita founding father bangsa yang belum tercapai. Langkah awal dalam mewujudkan cita besar tersebut bisa dimulai dari hal-hal terkecil, belajar misalnya.

Dengan mempelajari berbagai disiplin ilmu, seorang pemuda akan mampu mengenali jati dirinya sendiri, mengetahui hakikat seorang pemuda. Salah satu disiplin ilmu yang penting dipelajari adalah sejarah. Mempelajari fenomena terdahulu sebagai rujukan untuk menjalankan kehidupan saat ini.

Mari kita lihat fenomena terdahulu, SEJARAH HANCURNYA ANDALUSIA.

Saat ini, kita mengenal bahwa kota-kota indah seperti Barcelona, Madrid, Valencia, Sevilla, Granada, Malaga, Cordova, tersohor sebagai basis klub-klub sepak bola ternama, serta menjadi tujuan wisata favorit di dunia.

Namun, ketahuilah bahwa pada masa lalu kota-kota tersebut dihuni oleh kaum muslimin dan berada di bawah pemerintahan Islam.

Kita sudah mengetahui bahwa kisah dari pemimpin muslim terakhir di Andalusia (Spanyol) adalah Abdillah Muhammad bin Al Ahmar. Ia keluar dari istana kerajaan dengan hina. Malam itu, Andalusia telah jatuh ke tangan kerajaan Katolik setelah berada di bawah kekuasaan Islam selama lebih dari 800 tahun atau sekitar 8 abad!

Saat itu, ia tinggalkan istana dengan hati pilu, dadanya begitu sesak. Ia berjalan hingga sampai di sebuah bukit yang cukup tinggi. Dari sana, ia menatap Istana Al Hambra yang begitu megah, dan kemudian ia menangis tersedu-sedu hingga jenggotnya basah kuyup dengan air mata.

Melihat hal itu, sang ibu yang berada di sampingnya berkata: “Menangislah! Menangislah seperti seorang perempuan! karena kau tidak mampu menjaga kerajaanmu sebagaimana laki-laki perkasa.”

Kekuasaan Islam berakhir di Andalusia. Umat Islam di sana diberi pilihan: Masuk kristen, dibunuh, atau diusir.

Apakah kalian tahu sebab jatuhnya Andalusia?

Karena: Cinta dunia, meninggalkan jihad, berkubang kemaksiatan, menyerahkan urusan bukan pada ahlinya, dan bodoh dalam hal agama.

Melihat kondisi umat Islam di negeri tercinta ini.  Persatuan kita dipecah belah, ulama difitnah, ormas-ormas Islam yang berani menuntut keadilan dianggap anti-Pancasila, anti kebhinekaan dan dianggap makar. Bayangkan Indonesia kedepan,  jika kita hanya berdiam diri dan perlahan melihat kehancuram bangsa kita. Pemuda Islam akan menangis tersedu-sedu dan ibu-ibu mereka berkata: “Menangislah! Menangislah seperti perempuan menangis! karena kau tidak bisa menjaga bangsamu sebagaimana mestinya seorang laki-laki.”

Pelajari baik-baik 5 faktor di atas, karena sebab-sebab kejatuhan itu akan selalu sama.

Apakah nasib Indonesia 5 atau 10 Tahun lagi akan seperti ANDALUSIA? Wallahu a’lam bish-shawab. Lakukan apa yang bisa kita lakukan hari ini, jangan pernah menjadi pengecut. Tetap semangat para pejuang.
Muda, Berpikir, Bergerk

Merdeka!!! 


Penulis : Dewi Yulianti
Editor   : Dzikri Amrullah

0 komentar:

Posting Komentar