Tidak bisa dipungkiri, generasa muda bangsa saat ini
belum sepenuhnya tersadarkan dengan kondisi negara yang semakin jauh dari jati
dirinya. Masih banyak pemuda yang hanya memikirkan diri sendiri; asik dengan
kehidupan pragmatis; lekat dengan hedonis: fun,
food, fashion.
Generasi saat ini begitu dimanjakan oleh kemajuan
zaman, keseharianya hanya disibukan dengan bermain social media. Waktunya tersita berjam-jam hanya untuk mencari trend fashion terkini di instagram, membaca
status di facebook lebih digemari remaja saat ini dibanding membaca buku
pelajaran, lebih senang mengamati riwayat mantan disbanding riwayat bangsanya
sendiri.
Tidakkah terbesit dipikiran mereka apa tugas dari
seorang pemuda?
Pemuda seharusnya mampu menjadi pelopor dalam
menciptakan sebuah peeradaban yang luhur. Emosi yang masih berkobar-kobar
menjadi suluh untuk membakar semangat juang dalam mewujudkan cita-cita founding father bangsa yang belum
tercapai. Langkah awal dalam mewujudkan cita besar tersebut bisa dimulai dari
hal-hal terkecil, belajar misalnya.
Dengan mempelajari berbagai disiplin ilmu, seorang
pemuda akan mampu mengenali jati dirinya sendiri, mengetahui hakikat seorang
pemuda. Salah satu disiplin ilmu yang penting dipelajari adalah sejarah. Mempelajari
fenomena terdahulu sebagai rujukan untuk menjalankan kehidupan saat ini.
Mari kita lihat fenomena terdahulu, SEJARAH
HANCURNYA ANDALUSIA.
Saat ini, kita mengenal bahwa kota-kota indah
seperti Barcelona, Madrid, Valencia, Sevilla, Granada, Malaga, Cordova, tersohor
sebagai basis klub-klub sepak bola ternama, serta menjadi tujuan wisata favorit
di dunia.
Namun, ketahuilah bahwa pada masa lalu kota-kota
tersebut dihuni oleh kaum muslimin dan berada di bawah pemerintahan Islam.
Kita sudah mengetahui bahwa kisah dari pemimpin
muslim terakhir di Andalusia (Spanyol) adalah Abdillah Muhammad bin Al Ahmar. Ia keluar dari istana kerajaan dengan hina. Malam itu, Andalusia telah jatuh ke
tangan kerajaan Katolik setelah berada di bawah kekuasaan Islam selama lebih
dari 800 tahun atau sekitar 8 abad!
Saat itu, ia tinggalkan istana dengan hati pilu, dadanya
begitu sesak. Ia berjalan hingga sampai di sebuah bukit yang cukup tinggi. Dari
sana, ia menatap Istana Al Hambra yang begitu megah, dan kemudian ia menangis
tersedu-sedu hingga jenggotnya basah kuyup dengan air mata.
Melihat hal itu, sang ibu yang berada di sampingnya
berkata: “Menangislah! Menangislah seperti seorang perempuan! karena kau tidak
mampu menjaga kerajaanmu sebagaimana laki-laki perkasa.”
Kekuasaan Islam berakhir di Andalusia. Umat Islam di
sana diberi pilihan: Masuk kristen, dibunuh, atau diusir.
Apakah kalian tahu sebab jatuhnya Andalusia?
Karena: Cinta dunia, meninggalkan jihad, berkubang
kemaksiatan, menyerahkan urusan bukan pada ahlinya, dan bodoh dalam hal agama.
Melihat kondisi umat Islam di negeri tercinta
ini. Persatuan kita dipecah belah, ulama
difitnah, ormas-ormas Islam yang berani menuntut keadilan dianggap anti-Pancasila,
anti kebhinekaan dan dianggap makar. Bayangkan Indonesia kedepan, jika
kita hanya berdiam diri dan perlahan melihat kehancuram bangsa kita. Pemuda
Islam akan menangis tersedu-sedu dan ibu-ibu mereka berkata: “Menangislah! Menangislah seperti perempuan menangis! karena kau tidak bisa menjaga bangsamu sebagaimana mestinya seorang laki-laki.”
Pelajari baik-baik 5 faktor di atas, karena
sebab-sebab kejatuhan itu akan selalu sama.
Apakah nasib Indonesia 5 atau 10 Tahun lagi akan seperti
ANDALUSIA? Wallahu a’lam bish-shawab. Lakukan apa yang bisa kita lakukan hari
ini, jangan pernah menjadi pengecut. Tetap semangat para pejuang.
Muda, Berpikir, Bergerk
Merdeka!!!
Penulis : Dewi Yulianti
Editor : Dzikri Amrullah

0 komentar:
Posting Komentar