Cendekiawan Muda Pergerakan Organisasi dari berbagai universitas di Indonesia yang berbasis keilmuan untuk mencerdaskan kehidupan Bangsa!
Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Februari 2017

Puisi ini buat engkau para Penguasa !!



Dentuman keras
Menusuk dari hati yang dalam
Merobek jiwa rakyat polos
Di kursi dia tertawa

Wahai pencuri hati rakyat
Dirimu dihormati rakyat
Namun apa kau hormati juga
Darah perjuangan rakyatmu

Akankah kau menangis
Berdandan diatas bahagianya
Tiang pancang penuh candu
Kokoh dalam pulau sipit manis

Dia juga dia
Dia menusuk sia sia
Dalam kertas penuh bualan
Dibuat penuh rayu gombal

Apa kau masih tertidur manis
Berkaca dalam fana Demokrasi
Sementara sibadut penuh luka
Bersumpah serapah penuh bual

Penulis  : Ghailand Adam Al Farabi
Editor    : Alandxtreme

Muda, Berfikir, Bergerak !

MENYEDIHKAN !! MANA BUKTI CINTAMU...




Kamu cinta budaya Indonesia? 

Kok, bukannya dihargai tapi malah dibiarkan? Wajar saja ketika ada yang menghargai dia berpindah hati.

Indonesia adalah negara yang unik terbentuk dari bangsa ke negara. Namun ketika negara sebagai bangunan mulai dirusak dari dalam, lalu bagaimana kabar jati diri bangsa sebagai pondasinya? 

Adakah rohmu masih mendarah daging pada budaya dan adat di Indonesia? 

Apakah keberadaan lagu daerah, pakaian adat, dan rumah adat hanya tergambar pada buku paket di sekolah? 

Tergambar dan terukir tentunya berbeda. Lalu kemana perginya ukiran budaya Indonesia? 

Hilangkah atau berpindah ke lain tangan? 

Bukankah budaya adalah bukti dari sebuah peradaban?

Indonesia terbentang dari Sabang hingga Merauke, dimana setiap jengkal daerahnya memiliki beragam kebudayaan sebagai hasil interaksi dengan kenampakan alam dan makhluk hidup di lingkungannya. Hal ini terlihat dari kekhasan rumah-rumah yang didirikan, pakaian, tarian, lagu, makanan, permainan, dan pengetahuan yang dimajukannya sebagai ukiran sebuah  peradaban. Sehingga hal tersebut semakin menambah nilai keanggunan Indonesia sebagai bangsa yang berbudaya dimata negara lain. 

Fenomena yang terlihat bukan hanya sumber daya alam Indonesia saja yang menjadi perebutan negara besar, bahkan kini merekapun ingin meng-claim budaya Indonesia. Sebab ketika mata tajam sudah mengintai, maka ketika ada kesempatan berterbanganlah segala tawaran menarik hingga tangan mampu menggapai apa yang diinginkan.

Negeri dimana tongkat dan kayu jadi tanaman, dengan segala kekayaannya kini mulai terampas berliannya satu persatu, perlahan hingga akan berakhir seperti dongeng di penghujung malam sebelum tidur. 

Apakah ini yang kita harapankan? 

Negeri Indonesia yang tinggal kisahnya saja? 

Miris, namun ini realistis. Terlihat kini kebudayaan Indonesia menjadi asing di negaranya sendiri. Adakah yang salah dan ketidaksesuaian disini?

Adakah penduduk asli masih memegang budayanya ditengah perkembangan jaman?

Ketika lagu daerah sudah tak dikenal dibanding lagu pop dan lagu barat, ketika pakaian adat sudah terlihat kuno, ketika rumah adat berganti rumah modern, lalu dimana letak budaya milik penduduk asli daerahnya? 

Katanya cinta dan bangga dengan tanah air Indonesia, tapi diri sendiri acuh tak acuh pada budayanya. Barulah rasa kepemilikan datang ketika budayanya sudah di claim negara lain.

Sepertinya yang kita ketahui budaya erat kaitannya dengan lingkungan. Di lingkungan itu ada tanah, tumbuhan dan makhluk hidup lainnya. Namun anehnya mengapa mudah sekali masyarakat menjual tanahnya yang juga berarti menjual lingkungannya. Demi segepok uang yang habis dalam bulan ke bulan rela menggadaikan masa depan anak-cucunya.

Luar biasa taktik yang dimainkan beda jaman beda tokoh tapi satu polakata-kata itulah yang tepat untuk fenomena yang terjadi. Jika dahulu sebelum bangsa ini terbentuk, kita berada dibawah etika kerajaan seperti Sriwijaya dan Majapahit. Namun seiring semakin derasnya arus perdagangan menarik para penjajah hingga kita dikenalkan dengan budaya feodalistis, dengan mengambil alih tanah pribumi secara paksa (penaklukan). Dan adakah polanya sama seperti sekarang? Bahkan lebih miris! Masyarakat rela menjual tanahnya sendiri, bukan karena terdesak oleh penjajah, tapi terdesak oleh ego melihat tetangga sebelah beli motor baru.

Dan lihatlah sekarang tanah air kita tergadaikan, budaya kita jadi kisah klasik yang jadi rebutan, hukum kita dirusak etika dan moralnya, ekonomi berpihak pada kaum bermodal, pendidikan tak lebih dari sebuah mesin faktor produksi, dan politik yang menjadi papan hitam-putihnya.

Dan penulis yakin, pembaca sudah mengetahui siapa tokoh yang sedang memainkan pionnya. Apakah kita hanya mau menjadi penonton atau komentator? 

Haduh bukan waktunya lagi kawan, kita sedang menghadapi krisis multidimensional termasuk krisis kebudayaan (etika-moral). Udah deh kok masih mau berunding dengan maling yang menjarah rumahmu sendiri, yuk revolusi. Eits tapi jangan asal revolusi yak kalo gapunya konsep yang matang, khawatir bukan perbaikan tapi pengerusakan lebih parah seperti era reformasi.

Ah sudahlah lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk dalam kegelapan.

Ingat Tuhan menurunkan kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia bukan tanpa sebab, karena segala sesuatunya sudah ditentukan oleh-Nya. Dan tanggungjawab kita semua sebagai bangsa Indonesia untuk mempertahankan jati diri bangsanya, termasuk melestarikan budaya di Indonesia. 

Katanya cinta.. harus dijaga dong...

Penulis  : Sri Ayu Wahyuni S.Pd
Editor    : Alandxtreme

Muda, Berfikir, Bergerak !

Puisi Seorang Aktivis



Aku sebuah kata
Penuh lusuh
Penuh luka
Aku tak dikenang

Aku sebuah kata
Hidup sendiri suka ria
Hutang rasa dalam sunyi
Aku tak dikenang

Aku sebuah kata
Sudah cukup dalam batin
Sudahlah sayang...
Aku tak dikenang

Aku sebuah kata
Dalam sunyi penuh sesak
Diri berjuang demi engkau
Aku tak dikenang

Aku sebuah kata
Dalam mewahnya hidup
Dibuatlah belah kasih
Aku berjuang

Terima kasih teman
Jiwa sosial kalian luar biasa
Jiwa idealisme kalian tanam
Dalam damai penuh semangat

Aku sebuah kata... Terima kasih.

Penulis  : Ghailand Adam Al Farabi
Editor    : Alandxtreme

Muda, Berfikir, Bergerak !

MIRIS !! PARA SARJANA KITA TELAH LUPA MENJADI ORANG INDONESIA !!!




Sarjana ya Sarjana. Sudah menjadi lazim bagi setiap Insan Indonesia untuk mendapatkan gelar ini, sarjana bagaikan perekat bangsa, penguat bangsa, dan perubah Bangsa, gelar ini bisa disebut sebagai gelar Terhormat dikalangan masyarakat sebagai insana akademisi yang memumpuni sebagai kaum intelektual dan perubahan buat Bangsa dan negara tentunya.

Untuk menjadi sarjana, banyak tahapan yang harus dilewati. mulai dari pendidikan, penelitian baik tingkat formal skripsi, maupun tingkat nonformal lembaga dan semcamnya, setelah itu baru pengabdian masyarakat. Sungguh luar biasa sulitnya untuk mndapatkan gelar ini, harus diiringi dengan kesungguhan dan keseriusan, karena segala sesuatu dituntut untuk empiris dan rasional, baik pemikiran maupun tindakan sarjana tersebut.

Untuk saat ini Sarjana tidak lagi seperti itu,  gelar sarjana sudah tidak diagungkan lagi, kebesaran gelar sarjana tidak lagi mampu mendongkrak kepercayaan masyarakat. Banyak sarjana saat ini, mulai dari sarjana nasi bungkus, sarjana yang tidak pernah kuliah tiba-tiba wisuda atau bisa disebut sarjana siluman.

Sarjana PNS, Sarjana shoping, Sarjana nongki, Sarjana sogok, Sarjana penjilat, Sarjana apatis, Sarjana praktis banyak macamnya. Tidak lagi diagungkan oleh masyarakat, bukankah gelar sarjana output dari mahasiswa, sedangkan Mahasiswa tonggak perubahan, tonggak pengetahuan, tonggak perubahan.

Semakain banyak sarjana, semakin berubah kerah baik bangsa ini, semakin terangkat harkat dan martaba Bangsa Ini.

Untuk saat ini susah membedakan mana sarjana, mana masyarakat awam, terkadang masyarakat yang kita pandang awam ternyata lebih mumpuni secara pengetahuan dan terkadang sarjana bisa lebih awam dari pada masyarakat yang sebenarnya. 

Kenapa bisa begitu? 

Karena sarjana saat ini lupa bahwa tanah yang ia injak tanah jelmaan syurga yang sebagian terbuat dari emas. Sarjana lupa menjadi Orang indonesia, tidak tahu apa yang harus ia perbuat. Kelak nanti tikus akan mati dilumbung padi, kelak nanti anak cucu sarjana tadi tidak bisa membedakan mana emas mana perak, mana gunung mana darat. Sarjana jika kau hadir hanya  untuk membengkak APBN dan memberi beban negara lebih baik pendidikan kau ditiadakan sama sekali. Terimakasih.


Penulis  : Roki Riski, S.P.
Editor    : Alandxtreme

Muda, Berfikir, Bergerak !