Jangan keseringan mengeluh, karena hal itu tidak akan mengubah
keadaan. Tetap semangat menjalankan hidup, dan mensyukuri atas nikmat yang
Allah SWT berikan.
Sepekan lalu, penulis bertemu dengan seorang wanita yang
diperkirakan usianya sudah 45 tahun. Di teras rumah milik sang kakak, penulis
berbincang dengan wanita tersebut yang dipanggil ibu Siti.
Beliau menceritakan tentang kehidupannya sejak ditinggal mati oleh
kedua orangtuanya. Dengan penuh perhatian, penulis menatap wajahnya dan ikut
merasakan pilunya kehidupan beliau.
Ibu Siti merupakan anak perempuan pertama yang ditinggal mati pascapernikahannya
saat itu. Beliau harus mengurus enam adiknya yang masih sekolah. Dengan
perannya sebagai anak pertama, beliau selalu mengajarkan nilai-nilai kehidupan
kepada semua adiknya. Belajar untuk hidup mandiri, jujur, dan saling tolong menolong
antar saudara tanpa ada hitung-hitungan.
Dalam ceritanya, ibu Siti sangat menyayangkan karena salah satu
anaknya putus kuliah dan lebih memilih berkarir. Padahal, menurut ibu Siti pendidikan
itu penting dan selama orangtua mampu kenapa tidak untuk menguliahkannya.
Dengan nada yang begitu antusias dan harapan kosong, ibu Siti
membandingkan keinginannya ketika lulus SMA. Beliau ingin sekali bisa lanjut
kuliah. "Ibu mah, waktu dulu ingin banget bisa kuliah. Tapi mau gimana
lagi, kalau keadaan orangtua seperti itu dan masih punya adik-adik yang kecil,"
tutur ibu Siti.
"Dari dulu ibu itu suka belajar, soalnya dari kecil ikut
bapak kesana-kesini ngajar di sekolah. Cuma ibu neng yang sekolahnya itu dari
Tsanawiyah ke Aliyah. Sedangkan, adik-adik ibu mah sekolahnya di umum semua,"
lanjut beliau dalam menceritakan semangat hidupnya.
Meski usianya tak lagi
muda, semangat beliau untuk tetap belajar jelas terlihat dari wajahnya. Ibu
Siti hingga kini masih aktif dalam kegiatannya sebagai vokalis dalam tim qasidah ibu-ibu pada pengajian di sekitar rumahnya.
Semoga kita semua
terinspirasi untuk semangat belajar tanpa mengeluh. Semangat kakak!
Muda, Berfikir, Bergerak!
Penulis : Robiatul Adawiah R.
Editor : Dzikri Amrullah

0 komentar:
Posting Komentar