Sabtu, 31 Desember 2016

Refleksi Terompet Om, Akhir Tahun

Refleksi Penyimpangan Akhir Tahun




                Pada masa kejayaan Romawi yang ketika itu berada di bawah kekuasaan Julius Caesar yang kira-kira berada dalam kurun waktu Oktober 49 M – 15 Maret 44 SM, ada sebuah kebiasaan yang dilakukan oleh kaum Skyth bangsa Romawi kuno, dimana pada tanggal 31 Desember tepatnya pukul 00.00 malam, bangsa tersebut sering keluar rumah melakukan kegaduhan di tengah malam dengan bunyi-bunyian seperti meniup terompet dan hal-hal lainnya yang gaduh. Hal demikian sampai saat ini terus dilakukan oleh masyarakat di seluruh dunia dalam setiap penyambutan tahun baru Masehi, tidak terkecuali oleh masyarakat Indonesia.

Tidak bisa disangkal memang, perayaan tahun baru Masehi identik dengan tiupan dan suara terompet. Kegiatan ini selalu diakukan dan menjadi tradisi masyarakat Indonesia saat menyambut malam pergantian tahun. Dari sejak dulu Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan bahwa umat ini akan mengikuti jejak orang Persia, Romawi, Yahudi dan Nashrani. Dalam Hadist Rasulullah SAW pernah bersabda, “Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang yang sempit sekalipun, pasti kalian pun akan mengikutinya”. Kemudian para sahabat berkata, “Ya Rasullullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim). Apa yang dikatakan Rasulullah memang sudah benar-benar terbukti sekarang ini. Hal ini bisa kita lihat dalam fenomena perayaan penyambutan tahun baru ini. Banyak kegiatan yang bertolak belakang dengan ajaran Islam yang dilakukan oleh masyarakat muslim itu sendiri. Hal yang lumrah yang sering dilakukan selain meniup terompet ialah menyalakan kembang api.

Banyak umat Islam yang terlena dengan gemerlap kemewahan dari perayaan tahun baru ini. Hal tersebut menjadi sebuah kegiatan yang selalu dilakukan oleh hampir seluruh masyarakat kita. Padahal kita mengetahui bahwa Indonesia merupakan negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Padahal sudah jelas-jelas Rasulullah  sendiri yang sudah memberi peringatan. Mengapa hal demikian bisa terjadi? Padahal Islam memiliki identitas yang berasal dari aqidah yang benar. Namun, dengan melakukan kegiatan yang diadopsi dari bangsa Yahudi dan Nashrani seperti yang telah disebutkan di muka, apakah kita sudah menerapkan aqidah Islam? Hal itu bisa dilihat dalam fenomena perayaan tahun baru 2017.

Mungkin banyak orang yang menghiraukan perkara tersebut. Tak banyak pula yang mengatakan “Lah, ini kan cuma sekedar meniup terompet saja, kenapa dilarang?”

Nabi Shallallahu alaihi wa salam pernah bersabda, “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk kaum tersebut” (HR. Abu Dawud). Terkesan sepele memang perkara meniup terompet ini. Namun, ketika hal sepele ini kita lakukan terus-menerus dan mengakar menjadi kebudayaan di negara yang penduduknya mayoritas muslim, ini sudah diluar kewajaran. Ini juga mencerminkan bahwa sedikit demi sedikit dan secara perlahan jati diri kita sebagai muslim mulai tergerus oleh kebudayaan barat. Hal ini meruapakan ancaman bagi Islam sendiri.

Sejatinya kita sebagai muslim, tentu harus waspada terhadap budaya barat yang bertolak belakang dengan ajaran Islam. Dalam hadist pun sudah jelas diterangkan peringatan akan fenomena tersebut dan hal itu berarti supaya kita tidak mengikuti budaya-budaya tersebut.

Sejatinya fenomena perayaan penyambutan tahun baru ini kita isi untuk bersyukur dan sebagai renungan diri karena masih diberikan umur sampai dengan saat ini. Sisa umur ini seharusnya kita isi dengan hal-hal yang bermanfaat lagi bermakna.

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi kita semua, khususnya bagi penulis sendiri yang masih jauh dari kata sempurna namun tidak mengurangi keinginan penulis untuk terus belajar kearah lebih baik lagi.

1 komentar:

  1. om telolet om.. betul bang saepul, kini budaya kita selalu di benturkan dengan budaya lain..

    BalasHapus