Cendekiawan Muda Pergerakan Organisasi dari berbagai universitas di Indonesia yang berbasis keilmuan untuk mencerdaskan kehidupan Bangsa!

Jumat, 07 April 2017

Revolusi, Reformasi, atau Reforngantri?


Betapa sakitnya Bumi Pertiwi melihat pertikaian demi pertikaian hanya untuk kekuasaan. Rasanya seperti tersayat pisau; merobek sela pori-pori. Terlalu banyak harapan palsu yang diterimanya. Adakah pemuda yang siap memberi bukti untuk Bumi Pertiwi?


Mau jadi penonton ataukah  pemain? Silahkan kawan-kawan yang memilih.

Ayo revolusi! Indonesia sudah krisis! Kita harus segera revolusi!

Kata tersebut sering penulis dengar akhir-akhir ini di tengah berbagai permasalahan yang terjadi. Namun, apakah kita yakin akan melakukan revolusi? Sudah sejauh mana konsep kita untuk membangun bangsa ini? Sudah matangkah dengan cita-cita luhur bangsa ini? Jangan sampai kita bisa membongkar tapi tidak bisa memasang kembali, tambah hancur bangsa ini!

Pernahkah Indonesia setelah terbentuknya NKRI pada 18 Agustus 1945 mengalami sebuah revolusi? Apakah ketika sekumpulan mahasiswa menurunkan Soeharto dari Orde Baru dikatakan sebuah revolusi?

Di satu sisi penulis bertanya-tanya, apakah Soeharto turun karena desakan mahasiswa? Atau desakan dari pihak lain? Jika sekelas preman dan komplotan pembuat teror saja bisa di tumpas, mengapa Soeharto bisa turun hanya karena mahasiswa berdemo? Dan ketika penurunan Soeharto, apakah semua mahasiswa kontra terhadapnya?

Sebagai perbandingan, dalam tubuh militer pun terbagi menjadi dua kubu: ada ABRI merah dan hijau. Lalu, bagaimana dalam lingkup mahasiswa, adakah kubu pro terhadap Soeharto?

Di sisi lain, dengan HAM yang mengusung kebebasan pers dan mengemukakan pendapat, membuat peran media massa bergerak bebas, meluncurkan berbagai propaganda. Sehingga, berhasil menggiring opini publik seakan semua mahasiswa kontra terhadapnya.

Revolusi yang sesungguhnya belumlah terjadi! Adapun yang pernah terjadi adalah tindakan makar oleh oknum-oknum penghancur bangsa ini yang menggulingkan Orde Baru ke Era Reformasi.

Lihatlah, hasil dari para oknum yang kini duduk nyaman di bangku pemerintahan! Bagaimana Pancasila bisa berjalan jika UUD 1945 asli sebagai nilai-nilainya di rubah dan di hancurkan dengan dalih amandemen. Padahal, sebuah amandemen seharusnya memperbaiki, bukan merusak dengan memasukan nilai-nilai yang tidak sesuai dengan Pancasila yang mengedepankan kebebasan dan hak, tanpa mempertimbangkan kewajiban dan keadilan. Merekalah yang sebenar-benarnya pelaku makar!

Ingat! Makna revolusi berbeda dengan reformasi! Jika sudah demikian apa yang harus kita lakukan? Ketika krisis keadilan dan krisis kewibawaan lembaga negara sudah terjadi sejak reformasi, apakabar keadaan 2017 ini? Haruskah kita menunggu kehancuran yang terjadi pada tubuh NKRI ini dengan pasrah dan apatis?

Tak tepat kiranya jika kita melakukan revolusi sekarang, sebab kekuatan rakyat masih terpecah belah. Jika kita memaksakan untuk revolusi, maka yang kita hadapi adalah saudara sebangsa kita sendiri. Hal ini terlihat dari fenomena hangat tentang Ahok. Bukankah segala masalah bisa dihadapi jika bangsa ini bersatu?

Mari, kita tunggu tanggal mainnya dengan tetap belajar dan mendidik. Sebab, untuk mencapai kemerdekaan, rakyat harus cerdas. Sehingga cita-cita untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa bisa terwujud!
Semoga bermanfaat.
NKRI harga mati! Merdeka!
Ajeu kendor!
Muda, Berpikir, Bergerak!

Penulis : Sri Ayu Wahyuni
Editor  : Dzikri Amrullah

Ibu Siti, Motivasi Hidupku





Jangan keseringan mengeluh, karena hal itu tidak akan mengubah keadaan. Tetap semangat menjalankan hidup, dan mensyukuri atas nikmat yang Allah SWT berikan.

Sepekan lalu, penulis bertemu dengan seorang wanita yang diperkirakan usianya sudah 45 tahun. Di teras rumah milik sang kakak, penulis berbincang dengan wanita tersebut yang dipanggil ibu Siti. 

Beliau menceritakan tentang kehidupannya sejak ditinggal mati oleh kedua orangtuanya. Dengan penuh perhatian, penulis menatap wajahnya dan ikut merasakan pilunya kehidupan beliau.

Ibu Siti merupakan anak perempuan pertama yang ditinggal mati pascapernikahannya saat itu. Beliau harus mengurus enam adiknya yang masih sekolah. Dengan perannya sebagai anak pertama, beliau selalu mengajarkan nilai-nilai kehidupan kepada semua adiknya. Belajar untuk hidup mandiri, jujur, dan saling tolong menolong antar saudara tanpa ada hitung-hitungan.

Dalam ceritanya, ibu Siti sangat menyayangkan karena salah satu anaknya putus kuliah dan lebih memilih berkarir. Padahal, menurut ibu Siti pendidikan itu penting dan selama orangtua mampu kenapa tidak untuk menguliahkannya.

Dengan nada yang begitu antusias dan harapan kosong, ibu Siti membandingkan keinginannya ketika lulus SMA. Beliau ingin sekali bisa lanjut kuliah. "Ibu mah, waktu dulu ingin banget bisa kuliah. Tapi mau gimana lagi, kalau keadaan orangtua seperti itu dan masih punya adik-adik yang kecil," tutur ibu Siti.

"Dari dulu ibu itu suka belajar, soalnya dari kecil ikut bapak kesana-kesini ngajar di sekolah. Cuma ibu neng yang sekolahnya itu dari Tsanawiyah ke Aliyah. Sedangkan, adik-adik ibu mah sekolahnya di umum semua," lanjut beliau dalam menceritakan semangat hidupnya.

Meski usianya tak lagi muda, semangat beliau untuk tetap belajar jelas terlihat dari wajahnya. Ibu Siti hingga kini masih aktif dalam kegiatannya sebagai vokalis dalam tim qasidah ibu-ibu pada pengajian di sekitar rumahnya.


Semoga kita semua terinspirasi untuk semangat belajar tanpa mengeluh. Semangat kakak!

Muda, Berfikir, Bergerak!

Penulis   : Robiatul Adawiah R.
Editor    : Dzikri Amrullah


Di Balik Senyuman






Meski lelah telah mendatangi tubuh ini, hati rasanya bahagia bila melihat senyum dari kakak semua. Semangat ya, jangan lupa untuk selalu bahagia.

Ingat kak! Senyum merupakan bagian dari akhlak dalam islam. Senyuman ini dapat melukiskan perasaan senang ketika berjumpa dengan seseorang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: "Janganlah sekali-kali engkau menganggap remeh suatu perbuatan baik, meskipun (perbuatan baik itu) dengan engkau menjumpai saudaramu (sesama muslim) dengan wajah yang ceria." (HR Muslim).

Dengan begitu, maka selayaknya bagi kita untuk tidak bermuka masam apabila bertemu dengan saudara kita. Hadiahkanlah senyuman terbaik yang kita miliki. Demikianlah Islam menjadikan segala sesuatu menjadi bernilai ibadah dan berkah.

Tapi jangan senyum-senyum sendiri juga ya, karena semua pun ada tempatnya. Kapan waktu yang pas untuk tersenyum? Yaitu saat kita sedang bertemu dengan orang lain, saat kita menyambut tamu, bahkan saat kita sedang di timpa masalah sekalipun.

Tersenyum adalah obat yang mujarab untuk mengurangi beban yang sedang kita punya. Ini adalah salah satu hikmah dari tersenyum.

Begitu pula disebutkan dalam hadits lain mengenai sebuah senyuman yang diriwayatkan At-Tirmidzi, Al-Husein Radliyallahu’anhu, cucu Rasulullah SAW menuturkan keluhuran budi pekerti beliau.

Ia berkata, ”Aku bertanya kepada Ayahku tentang adab dan etika Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam terhadap orang-orang yang bergaul dengan beliau. Ayahku menuturkan, ‘Beliau Shallahu ‘alaihi wa Sallam senantiasa tersenyum, berbudi pekerti lagi rendah hati, beliau bukanlah seorang yang kasar, tidak suka berteriak-teriak, bukan tukang cela, tidak suka mencela makanan yang tidak disukainya. Siapa saja mengharapkan pasti tidak akan kecewa dan siapa saja yang memenuhi undangannya pasti akan senantiasa puas.” (HR Tirmidzi).

Penulis  : Robiatul Adawiyah R.

Editor   : Dzikri Amrullah

Kamis, 02 Maret 2017

Ada Skandal di pasar ini



Assalamu’alaikum para cendekiawan muda, semoga sehat selalu.


Black market merupakan fenomena unik, yang memungkinkan pemasaran atas produk tersebut terbebas dari bea cukai maupun bea masuk. Bagaimana tidak? Dikarenakan harga yang di tawarkan relatif sangat murah dari harga pasar, dan kualitasnya pun terjamin. Kini produk black market yang menjadi primadona para konsumen ialah gadget. Wow...! gadget yang berkelas premium di jual dengan harga murah, siapa yang tidak mau?

HP merek sumsang, apel di gigit, serta merek lainnya yang go internasional sangat di minati oleh konsumen black market. Dari data yang saya peroleh, transaksi terhadap barang bebas cukai tersebut mudah di dapati karena black market sudah menyusupi tiap-tiap daerah di Indonesia, bahkan, di pasar resmi pun masih bisa bila kita mau tanya dan punya link pada si penjual, wow... super sekali. Sebut saja si Black “Mau nyari black market mah gampang, di gua juga bisa. Di daerah Tangerang ini sudah menyebar black market, mulai dari daerah Karawaci, Perum dan sekitarnya,” Ujarnya. Wah, sangat menggiurkan,.. tapi bagaimana dampaknya terhadap prekonomian di indonesia? Yah, pasti terganggu dong, dan bahkan jadi masalah, pertanyaannya mengapa?

Pertama, produk yang masuk ke Indonesia melebihi kapasitas yang di tentukan. Wah, masyarakat Indonesia semakin konsumtif saja. Menurut data dari VNI (Visual Networking Index) Forecast Cisco pada tahun 2011, hanya dalam satu tahun pemilik gadget di Indonesia meningkat 50 juta menjadi 300 juta pengguna. Wow... wow... wow... ini tambah banyak saja pengguna smartphone di indonesia. Ini akan jadi pasar Lazisss buat black market. Jadi, di Indonesia orang akan mempunyai lebih dari 3 smartphone.

Kedua, pasti bakal merugikan Negara, bagaimana tidak ? barang itu lepas dari pajak, dan menjadi hambatan pajak serta penyimpangan terhadap bea cukai.

Ketiga, pasti menguntungkan bagi pihak penyelundup yaitu orang-orang cina. Teman saya yang ikut dalam kegiatan black market berkata bahwa sebagian besar penyelundup produk black market adalah orang-orang Cina. Memang hebat, mereka tidak hanya memecah politik bangsa ini, tetapi juga memecah mindset perekonomian orang Indonesia.

Sumber referensi tulisan:
 1. Survey lapangan
 2. Buku Pengantar perpajakan karya prof. Dr. Mardiasmo, MBA.,AK. Tentang bea cukai
 3. http://www.kompasiana.com/rifqy-tazkiyyaturrohmah/pengaruh-dari-maraknya-perdagangan-produk-black-market-di-indonesia_558d6e861597730c14fee034

Selasa, 28 Februari 2017

Puisi ini buat engkau para Penguasa !!



Dentuman keras
Menusuk dari hati yang dalam
Merobek jiwa rakyat polos
Di kursi dia tertawa

Wahai pencuri hati rakyat
Dirimu dihormati rakyat
Namun apa kau hormati juga
Darah perjuangan rakyatmu

Akankah kau menangis
Berdandan diatas bahagianya
Tiang pancang penuh candu
Kokoh dalam pulau sipit manis

Dia juga dia
Dia menusuk sia sia
Dalam kertas penuh bualan
Dibuat penuh rayu gombal

Apa kau masih tertidur manis
Berkaca dalam fana Demokrasi
Sementara sibadut penuh luka
Bersumpah serapah penuh bual

Penulis  : Ghailand Adam Al Farabi
Editor    : Alandxtreme

Muda, Berfikir, Bergerak !

MENYEDIHKAN !! MANA BUKTI CINTAMU...




Kamu cinta budaya Indonesia? 

Kok, bukannya dihargai tapi malah dibiarkan? Wajar saja ketika ada yang menghargai dia berpindah hati.

Indonesia adalah negara yang unik terbentuk dari bangsa ke negara. Namun ketika negara sebagai bangunan mulai dirusak dari dalam, lalu bagaimana kabar jati diri bangsa sebagai pondasinya? 

Adakah rohmu masih mendarah daging pada budaya dan adat di Indonesia? 

Apakah keberadaan lagu daerah, pakaian adat, dan rumah adat hanya tergambar pada buku paket di sekolah? 

Tergambar dan terukir tentunya berbeda. Lalu kemana perginya ukiran budaya Indonesia? 

Hilangkah atau berpindah ke lain tangan? 

Bukankah budaya adalah bukti dari sebuah peradaban?

Indonesia terbentang dari Sabang hingga Merauke, dimana setiap jengkal daerahnya memiliki beragam kebudayaan sebagai hasil interaksi dengan kenampakan alam dan makhluk hidup di lingkungannya. Hal ini terlihat dari kekhasan rumah-rumah yang didirikan, pakaian, tarian, lagu, makanan, permainan, dan pengetahuan yang dimajukannya sebagai ukiran sebuah  peradaban. Sehingga hal tersebut semakin menambah nilai keanggunan Indonesia sebagai bangsa yang berbudaya dimata negara lain. 

Fenomena yang terlihat bukan hanya sumber daya alam Indonesia saja yang menjadi perebutan negara besar, bahkan kini merekapun ingin meng-claim budaya Indonesia. Sebab ketika mata tajam sudah mengintai, maka ketika ada kesempatan berterbanganlah segala tawaran menarik hingga tangan mampu menggapai apa yang diinginkan.

Negeri dimana tongkat dan kayu jadi tanaman, dengan segala kekayaannya kini mulai terampas berliannya satu persatu, perlahan hingga akan berakhir seperti dongeng di penghujung malam sebelum tidur. 

Apakah ini yang kita harapankan? 

Negeri Indonesia yang tinggal kisahnya saja? 

Miris, namun ini realistis. Terlihat kini kebudayaan Indonesia menjadi asing di negaranya sendiri. Adakah yang salah dan ketidaksesuaian disini?

Adakah penduduk asli masih memegang budayanya ditengah perkembangan jaman?

Ketika lagu daerah sudah tak dikenal dibanding lagu pop dan lagu barat, ketika pakaian adat sudah terlihat kuno, ketika rumah adat berganti rumah modern, lalu dimana letak budaya milik penduduk asli daerahnya? 

Katanya cinta dan bangga dengan tanah air Indonesia, tapi diri sendiri acuh tak acuh pada budayanya. Barulah rasa kepemilikan datang ketika budayanya sudah di claim negara lain.

Sepertinya yang kita ketahui budaya erat kaitannya dengan lingkungan. Di lingkungan itu ada tanah, tumbuhan dan makhluk hidup lainnya. Namun anehnya mengapa mudah sekali masyarakat menjual tanahnya yang juga berarti menjual lingkungannya. Demi segepok uang yang habis dalam bulan ke bulan rela menggadaikan masa depan anak-cucunya.

Luar biasa taktik yang dimainkan beda jaman beda tokoh tapi satu polakata-kata itulah yang tepat untuk fenomena yang terjadi. Jika dahulu sebelum bangsa ini terbentuk, kita berada dibawah etika kerajaan seperti Sriwijaya dan Majapahit. Namun seiring semakin derasnya arus perdagangan menarik para penjajah hingga kita dikenalkan dengan budaya feodalistis, dengan mengambil alih tanah pribumi secara paksa (penaklukan). Dan adakah polanya sama seperti sekarang? Bahkan lebih miris! Masyarakat rela menjual tanahnya sendiri, bukan karena terdesak oleh penjajah, tapi terdesak oleh ego melihat tetangga sebelah beli motor baru.

Dan lihatlah sekarang tanah air kita tergadaikan, budaya kita jadi kisah klasik yang jadi rebutan, hukum kita dirusak etika dan moralnya, ekonomi berpihak pada kaum bermodal, pendidikan tak lebih dari sebuah mesin faktor produksi, dan politik yang menjadi papan hitam-putihnya.

Dan penulis yakin, pembaca sudah mengetahui siapa tokoh yang sedang memainkan pionnya. Apakah kita hanya mau menjadi penonton atau komentator? 

Haduh bukan waktunya lagi kawan, kita sedang menghadapi krisis multidimensional termasuk krisis kebudayaan (etika-moral). Udah deh kok masih mau berunding dengan maling yang menjarah rumahmu sendiri, yuk revolusi. Eits tapi jangan asal revolusi yak kalo gapunya konsep yang matang, khawatir bukan perbaikan tapi pengerusakan lebih parah seperti era reformasi.

Ah sudahlah lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk dalam kegelapan.

Ingat Tuhan menurunkan kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia bukan tanpa sebab, karena segala sesuatunya sudah ditentukan oleh-Nya. Dan tanggungjawab kita semua sebagai bangsa Indonesia untuk mempertahankan jati diri bangsanya, termasuk melestarikan budaya di Indonesia. 

Katanya cinta.. harus dijaga dong...

Penulis  : Sri Ayu Wahyuni S.Pd
Editor    : Alandxtreme

Muda, Berfikir, Bergerak !

Puisi Seorang Aktivis



Aku sebuah kata
Penuh lusuh
Penuh luka
Aku tak dikenang

Aku sebuah kata
Hidup sendiri suka ria
Hutang rasa dalam sunyi
Aku tak dikenang

Aku sebuah kata
Sudah cukup dalam batin
Sudahlah sayang...
Aku tak dikenang

Aku sebuah kata
Dalam sunyi penuh sesak
Diri berjuang demi engkau
Aku tak dikenang

Aku sebuah kata
Dalam mewahnya hidup
Dibuatlah belah kasih
Aku berjuang

Terima kasih teman
Jiwa sosial kalian luar biasa
Jiwa idealisme kalian tanam
Dalam damai penuh semangat

Aku sebuah kata... Terima kasih.

Penulis  : Ghailand Adam Al Farabi
Editor    : Alandxtreme

Muda, Berfikir, Bergerak !

MIRIS !! PARA SARJANA KITA TELAH LUPA MENJADI ORANG INDONESIA !!!




Sarjana ya Sarjana. Sudah menjadi lazim bagi setiap Insan Indonesia untuk mendapatkan gelar ini, sarjana bagaikan perekat bangsa, penguat bangsa, dan perubah Bangsa, gelar ini bisa disebut sebagai gelar Terhormat dikalangan masyarakat sebagai insana akademisi yang memumpuni sebagai kaum intelektual dan perubahan buat Bangsa dan negara tentunya.

Untuk menjadi sarjana, banyak tahapan yang harus dilewati. mulai dari pendidikan, penelitian baik tingkat formal skripsi, maupun tingkat nonformal lembaga dan semcamnya, setelah itu baru pengabdian masyarakat. Sungguh luar biasa sulitnya untuk mndapatkan gelar ini, harus diiringi dengan kesungguhan dan keseriusan, karena segala sesuatu dituntut untuk empiris dan rasional, baik pemikiran maupun tindakan sarjana tersebut.

Untuk saat ini Sarjana tidak lagi seperti itu,  gelar sarjana sudah tidak diagungkan lagi, kebesaran gelar sarjana tidak lagi mampu mendongkrak kepercayaan masyarakat. Banyak sarjana saat ini, mulai dari sarjana nasi bungkus, sarjana yang tidak pernah kuliah tiba-tiba wisuda atau bisa disebut sarjana siluman.

Sarjana PNS, Sarjana shoping, Sarjana nongki, Sarjana sogok, Sarjana penjilat, Sarjana apatis, Sarjana praktis banyak macamnya. Tidak lagi diagungkan oleh masyarakat, bukankah gelar sarjana output dari mahasiswa, sedangkan Mahasiswa tonggak perubahan, tonggak pengetahuan, tonggak perubahan.

Semakain banyak sarjana, semakin berubah kerah baik bangsa ini, semakin terangkat harkat dan martaba Bangsa Ini.

Untuk saat ini susah membedakan mana sarjana, mana masyarakat awam, terkadang masyarakat yang kita pandang awam ternyata lebih mumpuni secara pengetahuan dan terkadang sarjana bisa lebih awam dari pada masyarakat yang sebenarnya. 

Kenapa bisa begitu? 

Karena sarjana saat ini lupa bahwa tanah yang ia injak tanah jelmaan syurga yang sebagian terbuat dari emas. Sarjana lupa menjadi Orang indonesia, tidak tahu apa yang harus ia perbuat. Kelak nanti tikus akan mati dilumbung padi, kelak nanti anak cucu sarjana tadi tidak bisa membedakan mana emas mana perak, mana gunung mana darat. Sarjana jika kau hadir hanya  untuk membengkak APBN dan memberi beban negara lebih baik pendidikan kau ditiadakan sama sekali. Terimakasih.


Penulis  : Roki Riski, S.P.
Editor    : Alandxtreme

Muda, Berfikir, Bergerak !