Kok, bukannya dihargai tapi malah dibiarkan? Wajar saja ketika
ada yang menghargai dia berpindah hati.
Indonesia adalah negara yang unik terbentuk
dari bangsa ke negara. Namun ketika negara sebagai bangunan mulai dirusak dari
dalam, lalu bagaimana kabar jati diri bangsa
sebagai pondasinya?
Adakah rohmu masih mendarah daging pada
budaya dan adat di Indonesia?
Apakah keberadaan lagu daerah, pakaian adat, dan rumah adat hanya tergambar pada buku paket di sekolah?
Tergambar dan terukir tentunya berbeda.
Lalu kemana perginya ukiran budaya Indonesia?
Hilangkah atau berpindah ke lain tangan?
Bukankah budaya adalah bukti dari sebuah
peradaban?
Indonesia terbentang dari Sabang hingga Merauke, dimana setiap jengkal daerahnya memiliki beragam kebudayaan sebagai
hasil interaksi dengan kenampakan alam dan makhluk hidup di lingkungannya.
Hal ini terlihat dari kekhasan rumah-rumah yang didirikan, pakaian, tarian,
lagu, makanan, permainan, dan pengetahuan yang dimajukannya sebagai ukiran
sebuah peradaban. Sehingga hal tersebut
semakin menambah nilai keanggunan Indonesia sebagai bangsa yang berbudaya dimata negara lain.
Fenomena
yang terlihat bukan hanya sumber daya alam Indonesia saja yang menjadi
perebutan negara besar, bahkan kini merekapun ingin meng-claim budaya
Indonesia. Sebab ketika mata tajam sudah mengintai, maka ketika ada kesempatan
berterbanganlah segala tawaran menarik hingga tangan mampu menggapai apa yang
diinginkan.
Negeri dimana tongkat dan kayu jadi tanaman, dengan segala kekayaannya kini mulai terampas berliannya satu persatu, perlahan
hingga akan berakhir seperti dongeng di penghujung malam sebelum tidur.
Apakah ini yang kita harapankan?
Negeri Indonesia yang tinggal kisahnya saja?
Miris, namun ini realistis. Terlihat kini
kebudayaan Indonesia menjadi asing di negaranya sendiri. Adakah yang salah dan
ketidaksesuaian disini?
Adakah penduduk asli masih memegang
budayanya ditengah perkembangan jaman?
Ketika lagu daerah sudah tak dikenal dibanding lagu pop dan lagu barat, ketika pakaian adat sudah terlihat kuno,
ketika rumah adat berganti rumah modern, lalu dimana letak budaya milik
penduduk asli daerahnya?
Katanya cinta dan bangga dengan tanah air
Indonesia, tapi diri sendiri acuh tak acuh pada budayanya. Barulah rasa
kepemilikan datang ketika budayanya sudah di claim negara lain.
Sepertinya yang kita ketahui budaya erat
kaitannya dengan lingkungan. Di lingkungan itu ada tanah, tumbuhan dan makhluk
hidup lainnya. Namun anehnya mengapa mudah sekali masyarakat menjual tanahnya
yang juga berarti menjual lingkungannya. Demi segepok uang yang habis dalam
bulan ke bulan rela menggadaikan masa depan anak-cucunya.
Luar biasa taktik yang dimainkan “beda jaman beda tokoh
tapi satu pola” kata-kata itulah yang tepat untuk fenomena yang terjadi. Jika dahulu
sebelum bangsa ini terbentuk, kita berada dibawah etika kerajaan seperti
Sriwijaya dan Majapahit. Namun seiring semakin derasnya arus perdagangan
menarik para penjajah hingga kita dikenalkan dengan budaya feodalistis, dengan
mengambil alih tanah pribumi secara paksa (penaklukan). Dan adakah polanya sama
seperti sekarang? Bahkan lebih miris! Masyarakat rela menjual tanahnya sendiri,
bukan karena terdesak oleh penjajah, tapi terdesak oleh ego melihat tetangga
sebelah beli motor baru.
Dan lihatlah sekarang tanah air kita
tergadaikan, budaya kita jadi kisah klasik yang jadi rebutan, hukum kita
dirusak etika dan moralnya, ekonomi berpihak pada kaum bermodal, pendidikan tak
lebih dari sebuah mesin faktor produksi, dan politik yang menjadi papan
hitam-putihnya.
Dan penulis yakin, pembaca sudah mengetahui
siapa tokoh yang sedang memainkan pionnya. Apakah kita hanya mau menjadi
penonton atau komentator?
Haduh bukan waktunya lagi kawan, kita sedang
menghadapi krisis multidimensional termasuk krisis kebudayaan (etika-moral).
Udah deh kok masih mau berunding dengan maling yang menjarah rumahmu sendiri,
yuk revolusi. Eits tapi jangan asal revolusi yak kalo gapunya konsep yang
matang, khawatir bukan perbaikan tapi pengerusakan lebih parah seperti era reformasi.
Ah sudahlah lebih baik menyalakan lilin
daripada mengutuk dalam kegelapan.
Ingat Tuhan menurunkan kita sebagai bagian dari bangsa
Indonesia bukan tanpa sebab, karena segala sesuatunya sudah ditentukan oleh-Nya.
Dan tanggungjawab kita semua sebagai bangsa Indonesia untuk mempertahankan jati
diri bangsanya, termasuk melestarikan budaya di Indonesia.
Katanya cinta.. harus dijaga dong...
Penulis : Sri Ayu Wahyuni S.Pd
Editor : Alandxtreme
Muda, Berfikir, Bergerak !

Wow keren...
BalasHapus